Kamis 05 Nov 2020 04:26 WIB

Kinerja BUMN Konstruksi Merosot Tajam pada Kuartal III 2020

Terjadi penurunan baik dari sisi laba maupun pendapatan emiten konstruksi.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Sebuah mobil melaju di antara konstruksi proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (1/11). Perusahaan pelat merah bidang konstruksi membukukan performa buruk selama kuartal III 2020.
Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah
Sebuah mobil melaju di antara konstruksi proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (1/11). Perusahaan pelat merah bidang konstruksi membukukan performa buruk selama kuartal III 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan pelat merah bidang konstruksi membukukan performa buruk selama kuartal III 2020. Berdasarkan laporan keuangan yang telah dirilis di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan kinerja terjadi baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. 

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan penurunan laba bersih hingga 95,62 persen pada kuartal III 2020. Laba bersih ADHI tercatat sebesar Rp 15,38 miliar, turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 351,86 miliar.

Penurunan laba ini salah satunya didorong oleh penurunan pendapatan sebesar 5,36 persen dari Rp 8,94 triliun di kuartal tiga tahun lalu menjadi Rp 8,46 triliun per 30 September 2020. Di samping itu, beban keuangan perseroan meningkat dari Rp 503,77 miliar menjadi Rp 560,81 miliar.

Penurunan kinerja cukup tajam pada kuartal III 2020 juga dialami oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Laba bersih perseroan jeblok sebesar 91 persen dari Rp 1,56 triliun pada periode tahun lalu menjadi Rp 141 miliar pada periode tahun ini. 

Penurunan laba bersih ini terjadi seiring merosotnya pendapatan perseroan hingga 43,25 persen. Pada kuartal III tahun ini, perseroan hanya membukukan pendapatan sebesar Rp 10,38 triliun, sedangkan pendapatan periode tahun lalu mencapai Rp 18,29 triliun.

Meski demikian, Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito, optimistis performa perseroan akan segera pulih pada tahun depan. "Kita berharap, di tahun 2021, pandemi bisa segera teratasi dan WIKA siap untuk kembali tumbuh seperti tahun-tahun sebelumnya," terang Agung. 

Hingga September 2020, Agung menjelaskan, WIKA telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp 6,84 triliun. Saat ini pum, WIKA tengah mengikuti proses tender untuk proyek-proyek nasional maupun internasional dengan nilai total sekitar Rp 20 triliun sampai Rp 23 triliun.

Dengan demikian, Agung yakin perseroan akan mampu memenuhi target kontrak baru pada tahun 2020 sebesar Rp 21,37 triliun. Ditambah dengan proyek yang sudah diraih, maka order book WIKA mencapai Rp 100 triliun yang bisa diproduksi hingga beberapa tahun mendatang.

Selain ADHI dan WIKA, penurunan kinerja turut terjadi pada PT PP Tbk (PTPP). Pada kuartal III 2020, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 10,02 triliun. Raihan tersebut turun 37,02 persen dibandingkan periode tahun lalu yang mencapai Rp 15,91 triliun. 

Penurunan total pendapatan ini disebabkan oleh penurunan pendapatan segmen jasa konstruksi dari Rp 12,71 triliun menjadi Rp 7,88 triliun. Segmen jasa konstruksi sendiri merupakan kontributor terbesar pendapatan perseroan. 

Penurunan pendapatan ini turut membuat laba bersih perseroan pada kuartal III 2020 mengalami penyusutan. Pada periode tersebut, PTPP hanya membukukan laba bersih Rp 50,12 miliar, turun dibandingkan perolehan tahun lalu yang mencapai Rp 700,41 miliar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement