Rabu 04 Nov 2020 15:36 WIB

Jejak Warisan Kuliner Arab yang Bertahan di Sisilia

Pulau Sisilia menyimpan warisan Arab yang telah bertahan sejak lama.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Esthi Maharani
Hummus
Foto: Womanitely
Hummus

IHRAM.CO.ID, SISILIA -- Sisilia, sebuah daerah otonomi Italia dan pulau terbesar di Laut Tengah, menyimpan warisan Arab yang telah bertahan sejak lama. Salah satu warisan yang bertahan hingga kini di sana adalah kuliner.

Warisan kuliner Arab tersebut dapat dinikmati salah satunya di Tha'am, sebuah restoran Arab tertua dan paling terkenal di desa tepi laut Sisilia di San Vito Lo Capo. Nama restoran keluarga itu berarti 'couscous (makanan utama negara-negara Maghreb)' dalam dialek Aljazair.

Salah satu makanan khas Arab yang bisa dinikmati di sana adalah hummus dan babaganoush, serta teh khas Tha'am dengan mint dan kacang pinus.

"Rasanya seperti Anda berada di negara Arab, tetapi kemudian Anda menyadari bahwa Anda belum benar-benar meninggalkan Italia," kata Eletra Arban, seorang turis dari Milan, Italia, seperti dilansir di Middle East Eye, Rabu (4/11).

Saat ini, restoran Arab tersebut dikelola oleh Anna Graziano. Restoran ini merupakan warisan dari kakek-neneknya, yang merupakan orang Sisilia yang lahir dan besar di Tunisia. Restoran ini dibuka pada awal 1990an.

Saat itu, kata Graziano, restoran itu adalah satu-satunya restoran Arab yang berjarak bermil-mil. Namun, saat ini ada puluhan restoran Arab di sepanjang hamparan pantai Sisilia, dan ratusan di seluruh pulau Italia itu.

Desa di San Vito Lo Capo ini mencerminkan demografi keseluruhan dari Sisilia, pulau paling selatan Italia, di mana sekitar lima persen dari total populasinya adalah imigran. Sekitar 22.000 dari 200.000 populasi imigran Sisilia adalah orang Tunisia dan 16.000 orang Maroko, menjadikan orang Afrika Utara sebagai kelompok imigran terbesar kedua di sana.

Angka-angka itu menandakan tren imigrasi yang dibangun di atas sejarah Sisilia, yang telah menjadi tempat peleburan budaya selama berabad-abad. Orang Yunani, Romawi, Arab, Prancis, dan Spanyol semuanya telah meninggalkan jejak mereka di pulau ini di persimpangan Mediterania.

Di Tha’am, penawaran menu lebih dari sekadar mereplikasi resep Afrika Utara. Keluarga Graziano ingin menghidupkan kembali tradisi kuliner Arab-Sisilia yang semarak dengan ikan couscous favoritnya tetap menjadi mahkota di meja makan pada Jumat di Sisilia barat ini.

Masakan Sisilia pada umumnya sering dipadukan dengan cita rasa Arab, yang ditandai dengan penggunaan wewangian jeruk, buah-buahan kering, dan madu, yang merupakan ciri khas hidangan Afrika Utara.

"Saat kami buka, kami mencoba menawarkan sesuatu yang baru, yang ternyata sama sekali tidak baru. Masakan Sisilia Barat sudah menggabungkan cita rasa Afrika Utara. Kedekatan kami dengan sisi lain laut ini juga muncul melalui perut, jika ada yang terbuka untuk merasakannya," kata Graziano.

Di sudut kecil pulau ini, setiap tahun pada September, digelar sebuah festival yang merayakan "Couscous alla Trapanese" yang umumnya dikenal sebagai "Sicilian couscous". Festival ini menarik ribuan penduduk setempat, turis, dan koki terkenal internasional dari wilayah Mediterania. Mereka bersaing memperebutkan gelar resep couscous terbaik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement