Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Memilih Teman Jangan Sampai Sembarangan

Selasa 03 Nov 2020 15:05 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Berteman/ilustrasi

Berteman/ilustrasi

Foto: careergirlnetwork.com
Manusia selalu miliki tabiat menirukan kebiasaan orang sekitarnya.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Memilih teman memang tidak bisa sembarangan karena sesungguhnya tabiat itu bisa menurun. Seperti watak orang tua yang dapat menurun kepada anak-anaknya, begitu pula kebiasaan teman yang tentu bisa menurun kepada teman sekelilingnya.

"Maka, berhati-hatilah bergaul dengan orang bersifat jelek," kata Ustaz Muhammad Rezki, dalam kajian daring yang digelar Lembaga Dakwah Universitas Islam Indonesia (UII).

Ia menuturkan, manusia selalu miliki tabiat menirukan kebiasaan orang sekitarnya. Maka itu, menjalin pertemanan dengan orang bersifat jelak merupakan bencana yang memerlukan pencegahan karena melakukan pencegahan lebih mudah dari memperbaiki.

Bila seseorang terlanjur berteman dengan orang yang bersifat jelek, maka sangat sulit untuk terlepas darinya. Karenanya, Ustaz Rezki merasa lebih baik dari awal tidak berteman dengan mereka dibandingkan berteman tapi kesulitan melepaskannya.

"Rasulullah SAW pernah bersabda seseorang berada dalam agama temannya. Maksudnya, jika agama temannya baik, maka dia akan baik, jika tidak maka tidak," ujarnya.

Ustaz Rezki membenarkan, pertemanan memang menarik. Belum tentu sedarah daging tapi bisa memberi dampak bagi semuanya. Seperti dalam majelis ilmu di masjid-masjid, jika ada yang membaca Alquran, maka ada yang lain ikut membaca Alquran.

"Penting sekali memilih teman, sahabat. Pilihlah teman yang bisa mendekatkanmu kepada Rab-mu, teman yang sejalan dengan maksud dan tujuanmu yang mulia," kata Ustaz Rezki.

Ia menerangkan, dalam kitab Hilyah Tholibi Ilmi karya Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, pertemanan dibagi jadi tiga jenis. Pertemanan karena adanya manfaat, pertemanan karena adanya kesenangan dan pertemanan karena adanya kemuliaan.

Dua jenis pertemanan pertama merupakan jalinan teman yang berakhir setelah hilang pendorongnya, yaitu manfaat dan kesenangan yang sering didapatkan. Kedua motivasi pertemanan itu dinilai akan gampang putus dan hilang.

Contohnya, berteman dengan dia karena bermanfaat memberi harta dan popularitas. Sedangkan, pertemanan karena kesenangan seperti berteman lantaran temannya itu lucu, selalu mengajaknya bermain, dan dapat pula karena mencari hiburan.

Pertemanan ketiga menjadi jenis yang insya Allah abadi. Sebab, lanjut Ustaz Rezki, jalinan pertemanan dibangun lantaran rasa saling percaya, ikhlas, dan kemuliaan yang tertanam secara kokoh di kedua belah pihak.

"Inilah jenis pertemanan seperti mata uang yang langka. Pertemanan di atas kemuliaan bisa saling memberikan manfaat ke kedua sisi," katanya.

Di sisi lain, ada harapan dengan berteman atau berbaur kepada masyarakat dapat tertular sisi-sisi positif dari teman itu. Namun, jika pertemanan memberikan efek buruk, maka lebih diutamakan melakukan pengasingan diri atau memutus pertemanan.

"Kata kunci dalam bergaul proporsional, karena banyak yang berlebih-lebihan, apa-apa yang jadi standarnya pertemanan. Misal (tidak apa-apa) duduk terlalu dekat dengan lawan jenis," ujar dia.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA