Selasa 03 Nov 2020 14:45 WIB

Politico Europe Tarik Artikel Kritik Sekularisme Prancis

Editor Politico Europe mengatakan bahwa artikel yang awalnya diterbitkan pada 31 Oktober 'tidak memenuhi standar editorial kami' - Anadolu Agency

Editor Politico Europe mengatakan bahwa artikel yang awalnya diterbitkan pada 31 Oktober tidak memenuhi standar editorial kami - Anadolu Agency
Editor Politico Europe mengatakan bahwa artikel yang awalnya diterbitkan pada 31 Oktober tidak memenuhi standar editorial kami - Anadolu Agency

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS - Di tengah retorika anti-Islam yang sedang berlangsung di Prancis, artikel yang mengkritik sekularisme Prancis telah dihapus dari website berita Politico Europe. Berita opini itu berjudul "Agama sekularisme berbahaya di Prancis" diterbitkan pada 31 Oktober.

Pemimpin Redaksi Stephen Brown mengatakan artikel tersebut "telah ditarik karena tidak memenuhi standar editorial kami".

Baca Juga

Dalam artikelnya, Farhad Khosrokhavar, direktur studi di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, sebuah sekolah pascasarjana di Paris, mengatakan sekularisme di Prancis telah berkembang menjadi alat penindasan oleh segmen tertentu, dan hampir berubah menjadi agama sipil.

"Prancis membayar harga mahal untuk sekularisme fundamentalisnya, baik di dalam maupun di luar perbatasannya sendiri," sebut artikel tersebut.

Khosrokhavar mengatakan negara-negara seperti Denmark, tempat kartun Nabi Muhammad diterbitkan pertama kali, tidak menerima reaksi seperti itu.

“Alasannya sederhana: bentuk sekularisme Prancis yang ekstrem dan kepatuhannya pada penistaan ​​agama, yang memicu radikalisme dalam minoritas yang terkucilkan,” lanjut itu.

Meski sekularisme tradisional Prancis mengharuskan negara untuk tidak memihak dan menghormati agama di ruang publik, artikel tersebut menekankan bahwa sekularisme hari ini telah menjelma dalam bentuk radikal, dan berubah menjadi intoleransi.

“Penggunaan kartun yang tidak bijaksana atas nama kebebasan untuk menghujat pada akhirnya merusak debat publik: itu menstigmatisasi dan menghina bahkan Muslim yang paling moderat atau sekuler, banyak dari mereka tidak memahami fokus obsesif awam Prancis pada Islam,” tambah tulisan itu.

Sikap kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam memerangi apa yang dia sebut sebagai "separatisme Islam" di negaranya, menggambarkan Islam sebagai "agama dalam krisis". Pembelaan terhadap kartun-kartun yang menghujat telah menyebabkan kecaman internasional, protes dan seruan untuk memboikot produk-produk Prancis.

sumber : https://www.aa.com.tr/id/dunia/politico-europe-tarik-kembali-artikel-yang-kritik-sekularisme-prancis/2028735
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement