Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Menko PMK: Jokowi Ingin Hanya Satu Badan Tangani Stunting

Ahad 01 Nov 2020 02:44 WIB

Red: Esthi Maharani

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA
Permasalahan stunting ditangani oleh 21 lembaga pemerintah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Muhajir Effendi mengatakan Presiden Joko Widodo menginginkan hanya satu badan khusus yang menangani persoalan stunting di tanah air agar hasilnya lebih maksimal.

Prof Muhajir Effendi mengatakan itu saat tampil sebagai pembicara kunci webinar internasional seri 2 dengan tema "Gizi Prakonsepsi: Dari Kajian Molekuler Hingga Kebijakan Publik" yang digelar Universitas Hasanuddin melalui Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) secara daring, Sabtu (31/10)

"Permasalahan stunting ditangani oleh 21 lembaga pemerintah. Presiden ingin agar hanya satu badan yang menangani permasalahan tersebut agar pertanggungjawaban lebih jelas dan penanganannya lebih maksimal," katanya.

"Kita menargetkan penurunan stunting dari 27,7 persen menjadi 14 persen," sambung Prof Muhajir dalam kegiatan webinar itu.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan capaian pembangunan manusia dan kebudayaan, terutama dalam permasalahan stunting, sebagai salah satu program prioritas nasional. Menurut dia, permasalahan stunting menjadi penting mengingat hal tersebut berkaitan dengan kesehatan masyarakat.

Hal ini sejalan dengan hasil riset yang mengungkapkan sebesar 54 persen angkatan kerja tidak maksimal karena pada 1000 kelahiran pertama pernah mengalami masalah stunting.

Narasumber lain yakni Prof Michael Fenech, PhD dari University of South Australia menyampaikan materi tentang "Telomere Attrition and Chromosomal Instability in The 1000 days: Causes and Nutritional Prevention" yang membahas khusus tentang biomarker dan telomer.

Biomarker ketidakstabilan genom dapat mengidentifikasi kasus dengan peningkatan risiko infertilitas dan komplikasi kehamilan. Selain itu, mengoptimalkan telomer dan integritas kromosom pra-konseptual selama kehamilan berdampak pada kesuburan dan menghindari komplikasi.

"Pengetahuan selama hamil sangat penting seperti mengetahui nutrisi, lingkungan dan psikologis diri yang membantu selama proses kehamilan perkembangan anak yang dilahirkan," jelas Prof Michael.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kemitraan Unhas Prof dr Muh Nasrum PhD mengatakan webinar ini sangat berkaitan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) 1 dan 3 mengenai kemiskinan dan kesehatan.

Unhas saat ini sedang menjadi isu SDGs sebagai salah satu bagian dari capaian proses akademik, dan juga dijadikan tolok ukur World Class University.

"Kita berharap ada banyak masukan dan peluang, seperti kolaborasi riset mengenai tema ini sekaligus saran sebagai rujukan dalam memecahkan masalah nasional maupun global," jelas Prof Nasrum.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA