Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Sikapi Macron, Syekh Sudais: Islam Agama Kasih Sayang  

Sabtu 31 Oct 2020 14:40 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ketua Umum Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Abdurrahman as-Sudais, menyatakan Islam adalah agama kasih sayang

Ketua Umum Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Abdurrahman as-Sudais, menyatakan Islam adalah agama kasih sayang

Foto: Istimewa
Syekh Sudais menegaskan Islam adalah agama toleransi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kepala Presidensi Umum untuk Urusan Dua Masjid Suci, Syekh Abdurrahman As-Sudais mengatakan Islam bersih dari label tuduhan terorisme.

"Karena Islam adalah agama toleransi, kasih sayang dan merapatkan antara satu sama lain," ujar Sheikh Sudais dalam mimbar Jumat (30/10), Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi.

Tidak ada pada Islam, lanjut dia, tindakan terorisme atau radikalisme atau sabotase atau ejekan atau olokan atau membedakan antara nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT.

Baca Juga

Syekh Sudais juga menyerukan agar menahan emosi, provokasi, maupun berbagai aksi serta tindakan. Tindakan lalim tersebut tidak akan dapat menyentuh sedikit pun kedudukan para nabi dan risalah. "Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 67, dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.)," ujar Syekh Sudais.

Presiden Macron pada 2 Oktober 2020 menyampaikan pidato di hadapan anggota dewan, kepala daerah, dan perwakilan kelompok masyarakat sipil, terkait pentingnya mempertahankan nilai-nilai mendasar di Prancis. Dia turut menyampaikan beberapa pernyataan terkait Islam dan radikalisme.

Berselang beberapa pekan kemudian dan setelah kematian Samuel Paty, seorang guru di Prancis, Presiden Macron kembali menegaskan pemerintah bersama rakyat Prancis akan terus mempertahankan nilai-nilai kebebasan yang jadi dasar terbentuknya republik.

Lewat pidatonya yang disampaikan di Les Mureaux, Macron menyebut ancaman masyarakat Prancis adalah “Islam separatis”.

Istilah itu, menurut Macron, merujuk pada sekelompok penganut Islam ekstremis/fanatik yang “melenceng” dari nilai-nilai republik.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA