Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Studi Obat Antibodi Covid-19 Kembali Dihentikan

Sabtu 31 Oct 2020 13:34 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Obat eksperimental Covid-19 berbasis antibodi dari Regeneron diberikan kepada Presiden AS Donald Trump yang positif Covid-19.

Obat eksperimental Covid-19 berbasis antibodi dari Regeneron diberikan kepada Presiden AS Donald Trump yang positif Covid-19.

Foto: AP
Regeneron memproduksi obat Covid-19 eksperimental berbasis antibodi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi yang menguji obat antibodi eksperimental untuk infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) harus dihentikan sementara untuk kedua kalinya. Saat ini, penghentian dilakukan guna menyelidiki kemungkinan masalah keamanan pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Perusahaan farmasi Regeneron Pharmaceuticals Inc. mengatakan bahwa pemantau independen telah merekomendasikan untuk menunda pendaftaran pasien yang sakit parah, seperti mereka yang membutuhkan perawatan oksigen intensif atau ventilator. Hal itu karena ada potensi masalah keamanan dan keseimbangan risiko serta manfaat yang tidak menguntungkan.

Studi dapat terus menguji kombinasi obat dua antibodi pada pasien rawat inap yang membutuhkan sedikit oksigen atau tanpa bantuan oksigen ekstra. Penelitian lain pada pasien Covid-19 yang sakit ringan atau sedang juga terus berlanjut.

Antibodi adalah protein yang dibuat oleh tubuh saat terjadi infeksi. Antibodi akan menempel pada virus dan membantunya dimusnahkan.

Tetapi, perlu waktu beberapa pekan untuk membentuk antibodi yang paling efektif. Obat eksperimental bertujuan untuk segera membantu, dengan memasok versi terkonsentrasi dari satu atau dua antibodi yang bekerja paling baik melawan virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan penyakit Covid-19 di laboratorium dan uji hewan.

Awal bulan ini, sekelompok pemantau yang berbeda merekomendasikan untuk menghentikan pendaftaran dalam studi Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (AS) yang menguji obat antibodi Eli Lilly. Hal ini bertujuan menyelidiki kemungkinan masalah keamanan pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Pada awal pekan ini, Institut Kesehatan National AS (NIH) mengatakan tidak ada masalah keamanan yang telah diverifikasi. Namun, lembaga itu menghentikan penelitian karena obat tampaknya tidak berfungsi dalam situasi tersebut.

“Hasil semacam ini memberi tahu kami tentang waktu manfaatnya,” ujar Myron Cohen, ahli virologi University of North Carolina yang juga menjadi penasehat Pemerintah AS tentang pengobatan Covid-19.

Pengujian pada hewan menunjukkan bahwa obat antibodi bekerja paling baik ketika diberikan pada awal infeksi untuk menurunkan jumlah virus. Saat seseorang sakit parah, obatnya mungkin tidak membantu, tetapi terlalu dini untuk mengetahui apakah itu masalahnya.

Para dokter sudah mengaetahui bahwa waktu dapat menjadi masalah dalam perawatan Covid-19. Studi menunjukkan bahwa deksametason dan steroid lain dapat menurunkan risiko kematian saat diberikan kepada pasien yang sangat sakit untuk merusak sistem kekebalan yang terlalu aktif, tetapi mungkin berbahaya bagi mereka yang hanya sakit ringan.

Perusahaan farmasi seperti Lilly dan Regeneron telah meminta Food and Drug Administration (FDA) AS untuk mengizinkan penggunaan darurat obat antibodi eksperimental yang mereka kembangkan untuk pasien dengan sakit ringan dan sedang yang tidak memerlukan rawat inap. Presiden AS Donald Trump juga mendapat obat Regeneron ketika dinyatakan positif Covid-19 pada awal bulan ini.

Regeneron mengatakan akan membagikan saran dari pemantau independen dengan FDA dan pemimpin studi terpisah di Inggris yang menguji obatnya pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA