Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Khanduri Molod, Tradisi Maulid Nabi SAW di Aceh Kaya Hikmah

Sabtu 31 Oct 2020 08:56 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah

Khanduri molod mempunyai nilai filosofis dan hikmah  Warga dengan menggunakan pakaian adat mempersiapkan hidangan makanan untuk dinikmati pada perayaan maulid akbar Nabi Muhammad SAW di Blangpadang, Banda Aceh, Aceh, Kamis (6/2/2020).

Khanduri molod mempunyai nilai filosofis dan hikmah Warga dengan menggunakan pakaian adat mempersiapkan hidangan makanan untuk dinikmati pada perayaan maulid akbar Nabi Muhammad SAW di Blangpadang, Banda Aceh, Aceh, Kamis (6/2/2020).

Foto: Antara/Irwansyah Putra
Khanduri molod mempunyai nilai filosofis dan hikmah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Umat Muslim di seluruh Nusantara merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan beragam acara dan penyebutan kelahiran Nabi. Di Aceh misalnya perayaan maulid disebut dengan khanduri molod. 

Humas Dayah Insan Qur'ani Aceh, Ustadz Muhammad Nasril,  menerangkan arti khanduri molod adalah melahirkan nilai positif, yaitu, ajang memperkuat silaturahim dan untuk perbaikan gizi dengan menu khas yang ada pada musim maulid, dan ini sangat dianjurkan Rasulullah SAW. 

"Inti dari ihtifal maulid ini yaitu momen mengingat, mengatur kembali serta menata tentang kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Ini yang dimaksud sebagai ajang perbaikan ‘gizi’ spritual untuk lebih mencintai dan meneladani Rasulullah," katanya kepada Republika.co,id, Jumat, (30/10). 

Baca Juga

Terkadang, kata Nasril, selama ini kita terus berjalan, tanpa mau mengikuti amalan-amalan dan perkataan-perkataan Rasulullah. Dengan adanya momen semacam ini, satu hikmah paling besar, kita jadikan muhasabah cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan meneladani dan menjalankan sunahnya. 

Melalui khanduri molod, umat Islam bisa merajut persaudaraan, merawat kebersamaan. Untuk itu bagi yang membolehkan merayakan khanduri molod, juga berbeda tata caranya sesuai dengan adat daerah masing-masing tak mesti dipermasalahkan. 

"Ada sebagian daerah khanduri di masjid dan di meunasah, masyarakatnya membawa bu kulah, dan ada juga masyarakat membawa nasi kotak," katanya. 

Di samping para panitia mengundang desa tetangga, di sini juga sudah terbentuk silaturrahim antara satu gampong dengan gampong yang lainnya dan santunan anak yatim. Kemudian di rumah-rumah mengundang sanak famili, tetangga dan kerabatnya untuk berkenan hadir dan menyantap sedikit hidangan dari tuan rumah.  

"Ini tentu hal yang sangat positif untuk menyambung dan mengikat silaturrahim. Kadang saudara yang jauh pun merapat utuk memenuhi undangan," katanya.

Nasril yang juga penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kuta Malaka ini menyampaikan, yang perlu diketahui bahwa khanduri molod itu sebagai wasilah atau cara saja, karena berbeda generasi tentu berbeda cara mengungkapkan cinta kepada Rasulullah SAW. "Namun, yang perlu diperhatikan, jangan sampai terjadi kemungkaran karena adanya acara-acara semacam ini," katanya.

Misalnya, jangan sampai karena alasan menghadiri khanduri, seseorang malah meninggalkan sholat atau khanduri dijadikan ajang unjuk gengsi semata, dan hal-hal lain yang dilarang syariah. 

"Kemungkaran yang mungkin terjadi tersebut, tentunya bertentangan dengan tujuan mulia dilaksanakannya khanduri. Hal ini perlu dihindari  mereka yang menyelenggarakan khanduri molod," katanya.

photo
Warga menyiapkan menu makanan untuk dinikmati bersama pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid) di Desa Ilie, Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Ahad (13/1/2019). - (Antara/Irwansyah Putra)
Jadi, sebetulnya kata dia, hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak, lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlak Nabi SAW untuk diteladani, kemudian di akhir acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama.

Ada suatu hal yang membuat sebagian orang menjadi ragu-ragu untuk merayakan peringatan maulid ini, yaitu ketiadaan  perayaan semacam ini pada masa-masa awal Islam yang istimewa (alqurun al ula al mufadhalah). 

Argumen ini, bukanlah alasan yang tepat untuk melarang perayaan itu, karena tidak ada seorang pun yang meragukan kecintaan mereka radhiyallahu ‘an hum terhadap Nabi SAW. 

Namun, kecintaan ini mempunyai cara dan bentuk pengungkapan yang bermacam-macam. Tentu saja bentuk pengungkapan rasa cinta kita kepada Rasulullah, berbeda dengan para sahabat kala itu. 

Berbahagia dan bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW merupakan ibadah, tapi cara pengungkapan kebahagiaan itu hanya merupakan washilah (sarana) yang diperbolehkan untuk dilakukan. Setiap orang dapat memilih  cara yang paling sesuai  dengan dirinya untuk mengungkapkan hal tersebut.

Di tengah pandemi ini, tetaplah mengikuti prosedur pelaksanaan kegiatan bersama seperti dianjurkan pemerintah, menerapkan protokol kesehatan, menjaga diri dan juga orang lain dari hal membahayakan. Kalau memang tidak memungkinkan  berkumpul  ramai-ramai seperti biasanya, gaungkan maulid secara virtual. 

"Momentum maulid ini mengajarkan kita cara merawat cinta kepada Baginda Rasulullah SAW dan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara," katanya.  

Di akhir tausiyah di hari peringatan khanduri molod yang digelar secara virtuao, Nasril mengajak umat Islam untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, merajut persaudaraan dan menjaga kebersamaan.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA