Jumat 30 Oct 2020 10:43 WIB

BRI Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Inkubasi dan Ekosistem

BRI telah menjalankan BRIncubator bagi pelaku UMKM agar memiliki daya saing.

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Logo Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Foto: Antara
Logo Bank Rakyat Indonesia (BRI).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berupaya mengedepankan metode inkubasi dan pembentukan ekosistem bagi pelaku UMKM di Indonesia. Hal ini dilakukan agar pelaku UMKM dapat ‘naik kelas’ di pasar dalam negeri.

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan perseroan telah menjalankan BRIncubator bagi pelaku UMKM agar memiliki daya saing dan mampu masuk ke pasar global. BRIncubator merupakan satu dari sekian banyak inisiatif BRI untuk membantu dan menumbuhkembangkan UMKM.

Baca Juga

“Kami ingin siapkan UMKM agar lebih layak dan berdaya sehingga memiliki bargaining position lebih baik. Kegiatan ini membantu UMKM, melatih UMKM, supaya memiliki kapasitas lebih baik dan akses pasar kepada mereka,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).

Selain melalui BRIncubator, perseroan juga membantu pelaku usaha kecil agar bisa tumbuh dan bertahan selama pandemi dengan berbagai program pembiayaan serta relaksasi. Saat ini BRI sudah merestrukturisasi pinjaman 2,95 juta debitur senilai Rp 195 triliun, dan 90 persennya diberikan kepada pelaku UMKM.

BRI juga sudah me-leverage penempatan dana Rp 15 triliun dari pemerintah menjadi Rp 45 triliun. Selain itu, BRI terlibat dalam penyaluran bantuan presiden (Banpres) produktif untuk jutaan pelaku usaha kecil. Tercatat awal Oktober, BRI sudah menyalurkan Banpres Produktif bagi 2,3 juta pelaku usaha mikro dengan nilai Rp 5,53 triliun.

“Kami juga didukung 448 ribu AgenBRILink di seluruh Indonesia dan ini bisa jadi akses UMKM untuk dapat permodalan lewat referral agen-agen ini. Kemudian, rencananya kami rutin pada Desember ada program UMKM Export,” ujarnya.

Sementara Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menambahkan Program BRIncubator sebagai contoh baik untuk membantu pengusaha kecil. Menurut Teten, inkubasi harus dilakukan agar semakin banyak pelaku usaha mikro dan kecil yang bisa naik kelas.

“Saat ini UMKM yang lebih bisa menyediakan kebutuhan lapangan kerja. Karena itu bagaimana kita harus fokus mendorong pertumbuhan (usaha) yang kecil dan menengah, yang jumlahnya sekitar 800 ribu, supaya struktur lebih membesar di tengah, dengan begitu penyerapan tenaga kerja lebih besar,” ucapnya.

Menurutnya proses inkubasi juga dibutuhkan untuk mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru di Indonesia. Adanya kehadiran wirausahawan baru menjadi penting karena jumlah pengusaha di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga.

“Pendekatan inkubasi untuk kita tumbuh kembangkan usaha kecil jadi menengah, dan menengah menjadi besar. Pemerintah harus menciptakan seluruh ekosistem untuk mereka tumbuh berkembang,” ucapnya.

Teten mengungkap saat ini rasio wirausaha dibanding jumlah warga Indonesia baru sebesar tiga persen. Padahal, untuk masuk kategori maju, persentase wirausaha sebuah negara harus mencapai minimal empat persen.

“Anak-anak muda tidak boleh kesulitan mengembangkan idenya untuk masuk ke tahap industri dan komersialisasi. Kita perlu seperti itu, karena berhubungan dengan ekspor ini banyak persyaratan yang tidak mungkin dipenuhi usaha mikro, maka saya kira kemitraan harus dilakukan. Kita harus bisa membawa ke global produk-produk yang unggul secara domestik,” ucapnya.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Bambang Brodjonegoro mengungkapkan ada dua unsur yang penting dalam membentuk ekosistem UMKM berkelanjutan, yakni pembiayaan dan teknologi. Adopsi teknologi memegang peran penting agar pelaku usaha kecil memiliki akses pasar yang lebih luas, dan daya saing.

“Ini pentingnya teknologi kalau diterapkan dalam bisnis, terutama UMKM. UMKM bisa pakai teknologi yang low cost, mudah dan sesuai bisnis lokal. UMKM butuh eksposur terhadap digitalisasi. Digitalisasi bukan buat gagah-gagahan, tetapi ini adalah esensi bisnis paling dasar, market access. Hal ini tidak bisa sekedar tatap muka atau berjualan langsung, tapi harus masuk digital,” ucapnya.

Bambang menganggap program BRIncubator sebagai contoh gerakan bagus untuk memperbanyak jumlah pengusaha di Indonesia. Jika jumlah wirausahawan sudah perlahan meningkat, maka kualitas mereka juga harus ditingkatkan menggunakan penerapan teknologi mulai dari tahap produksi hingga distribusi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement