Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Mantan Polisi: Prancis Gagal Terapkan Multikulturalisme

Jumat 30 Oct 2020 10:42 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Ani Nursalikah

Mantan Polisi: Prancis Gagal Terapkan Multikulturalisme. Polisi berjaga di Gereja Notre Dame di Nice, Prancis, setelah terjadi insiden serangan dengan pisau, Kamis (29/10). Seorang pelaku menggunakan pisau membunuh tiga orang di gereja kota Mediterania, Nice. Akibatnya PM Prancis mengumumkan negara dalam kondisi bahaya tingkat tinggi.

Mantan Polisi: Prancis Gagal Terapkan Multikulturalisme. Polisi berjaga di Gereja Notre Dame di Nice, Prancis, setelah terjadi insiden serangan dengan pisau, Kamis (29/10). Seorang pelaku menggunakan pisau membunuh tiga orang di gereja kota Mediterania, Nice. Akibatnya PM Prancis mengumumkan negara dalam kondisi bahaya tingkat tinggi.

Foto: AP Photo/Daniel Cole
Stigmatisasi terhadap Muslim tidak membantu memerangi terorisme.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Mantan kepala kontraterorisme Inggris Chris Philipps berpendapat serangkaian serangan penikaman yang terjadi di Prancis merupakan hasil dari percobaan multikulturalisme yang gagal di negara itu. Ia mengatakan kekerasan mengikuti saat liberal yang dianut Barat bentrok dengan Islam.

"Saya meyakini Prancis dan Barat membawa banyak hal ini pada diri mereka sendiri. Mereka telah mengundang orang datang ke negara mereka, dan mengizinkan orang datang ke negara mereka yang tidak memiliki proses berpikir untuk akhirnya berasimilasi. Budaya Prancis, Anda menerimanya atau tidak, dan orang-orang ini jelas tidak," kata Philipps kepada RT, Jumat (30/10).

Sebelumnya, penyerangan bersenjata kembali terjadi lagi di Prancis. Seorang bersenjata pisau membunuh tiga orang di sebuah gereja di kota Nice. Aparat kepolisian di Avigon menembak mati salah seorang lainnya, polisi juga menggagalkan serangan teroris lainnya di dekat gereja di Sartrouville, dekat Paris. Tak hanya terjadi di Prancis,  kepolisian di Arab Saudi juga menangkap seorang pria yang menikam seorang penjaga di luar konsulat Prancis di kota Jeddah. 

Baca Juga

Pascapenyerangan yang terjadi di kota Nice, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut pelaku penyerangan sebagai teroris Islam. Ia pun mengerahkan pasukan untuk menjaga gereja dan sekolah. Diketahui beberapa hari sebelumnya, Macron juga bersumpah menekan kejahatan yang disebutnya merupakan Islam radikal. Itu dikatakan Macron setelah seorang remaja Muslim memenggal kepala seorang guru karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya. 

Menurut Philipps pengerahan tentara yang dilakukan Macron memang bisa menyakinkan publik dalam jangka pendek. Tetapi, menurutnya, hampir tidak mungkin menyaring para pelaku yang potensial menyerang di masa depan. Bahkan menurutnya lebih sulit lagi mendeportasi atau menahan mereka, sebab menurutnya seperti pengalamannya selama menjabat di Inggris, banyak tersangka yang merupakan pelaku teror adalah warga Inggris juga.  

"Kami punya 20 atau 30 ribu orang yang menjadi perhatian di Inggris. Prancis mungkin punya lebih dari itu. Jika Anda pergi Nice, ada kontingen besar Afrika Utara di sana," katanya.

Media-media Prancis melaporkan pelaku penyerangan di kota Nice adalah seorang warga imigran Tunisia berusia 21 tahun.  Empat tahun lalu, seorang warga Tunisia juga menjadi aktor dibalik truk seberat 19 ton yang menerobos kerumunan, sedikitnya 84 orang tewas dan lebih dari 400 orang mengalami luka-luka

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA