Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Visi Integrasi Maulid Nabi Perlu Ditiru Para Pemimpin NKRI

Jumat 30 Oct 2020 10:36 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Rasulullah SAW (ilustrasi)

Rasulullah SAW (ilustrasi)

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Karakter dan kepribadian Nabi SAW sangat mengagumkan, memesona kawan dan lawan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan Wakil Ketua Umum IMLA Indonesia

Dalam The Genuine Islam, George Bernard Shaw menyatakan, Muhammad SAW (lahir 570 M) memulai misi kenabian dengan mendakwahkan Islam pada usia 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Sepanjang masa kenabiannya yang relatif singkat (23 tahun), beliau sukses melakukan transformasi Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk, menjadi para penyembah Tuhan yang Maha Esa. Transformasi sosial juga berhasil dilakukan.

Dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu; dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar; dari kaum tak tertib hukum dan menjadi kaum yang teratur; dari kebobrokan dan kebiadaban menuju keagungan moral.

Sejarah manusia tidak pernah mengenal transformasi sosial sedahsyat ini. Bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu singkat, hanya dua dekade.

Karakter dan kepribadian Nabi SAW sangat mengagumkan, memesona kawan dan lawan. Keluhuran budi pekertinya tiada duanya. Keagungan akhlak beliau merupakan teladan terbaik sepanjang masa. Allah SWT memujinya, "Sungguh engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS al-Qalam [64]: 4). Istrinya, Aisyah, menarasikan, akhlak Nabi SAW adalah Alquran (HR Muslim).

Sejarawan AS, Will Durant, pernah memuji Nabi SAW. "Kita harus katakan, Muhammad adalah tokoh sejarah terbesar sepanjang masa. Ketika memulai dakwahnya, negeri Arab adalah sebentang padang pasir kering dan kosong, yang di beberapa kawasannya dihuni sejumlah kaum Arab penyembah berhala. Jumlah mereka kecil, tapi perselisihan di antara mereka sangat banyak."

"Akan tetapi, ketika beliau wafat, penduduk Arab telah muncul sebagai umat yang bersatu dan kompak. Beliau menghapus segala macam khurafat dan fanatisme, dan menyuguhkan sebuah agama yang sederhana, tapi kokoh dan terang benderang yang dibangun di atas dasar keberanian dan kemuliaan. Kitab beliau adalah Alquran, dan tak ada kitab lain yang mampu menandinginya dari segi kekuatan pengaruh dan daya tariknya."

Salah satu kehebatan beliau, yakni mempersatukan bangsa Arab yang memiliki egoisitas dan loyalitas kesukuan tinggi sehingga sering berperang satu sama lain. Lalu, bagaimana kita meneladani budi pekerti luhur itu, terutama dalam mempersatukan umat dan bangsa?

Bagaimana dua legasi untuk umatnya, Alquran dan sunah, dapat diaktualisasikan dengan visi integrasi dalam kehidupan sehari-hari, agar menjadi bangsa berketuhanan, berkemanusiaan, berkeadaban, bersatu dalam bingkai NKRI, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial?

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA