Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Legislator Ini Kritisi Rencana Pembangunan Wisata Komodo

Jumat 30 Oct 2020 07:17 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Andi Nur Aminah

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih.

Foto: DPR
Pembangunan tersebut bagus bila tetap berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih mengkritisi terkait rencana pemerintah membangun kawasan wisata di daerah konservasi komodo di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Menurutnya pembangunan tersebut bagus bila tetap berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan. "Tapi kalau tambal sulam seperti ini benar-benar kita telah abai dengan masa lalu dan masa depan," kata Fikri kepada Republika.co.id, Jumat (30/10).

Ia menjelaskan, masa lalu yang dimaksud yaitu lantaran kawasan konservasi komodo telah lama diakui oleh Unesco sebagai warisan dunia. Namun setelah mendapatkannya, kini kawasan tersebut mau diubah kembali. "Lantas bagaimana bahasa kepada masyarakat adat sekitar yang telah lama berjuang untuk mendapatkannya?" ujarnya.

Sementara itu saat ini, ia melihat melalui pembangunan kawasan wisata komodo,  orientasi pemerintah yaitu untuk kepentingan investasi dan ekonomi. Padahal, sejak 1970-an bangsa Indonesia sudah bervisi karena kerusakan lingkungan maka pembangunan pembangunan ke depan harus berwawasan lingkungan. Sehingga sepakat dengan konsep pembangunan berkelanjutan. "Berkelanjutan adalah memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengabaikan generasi mendatang untuk  bisa memenuhi kebutuhannya," ucapnya.

Baca Juga

Politikus PKS itu menambahkan, pemerintah perlu memperhatikan saran dari banyak pihak. Selain itu perlu ada kajian menyeluruh dalam pembangunan kawasan wisata komodo, sehingga pembangunan tersebut tidak hanya menjamin kelangsungan manusia, tetapi juga kelangsungan hidup flora dan fauna.

"Harus ada kajian mendalam tentang ecological footprint dan carrying capacity seperti yang tercantum dalam dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) wilayah (zona) yang sudah kita sepakati bersama UNESCO untuk melestarikan spesies reptil komodo yang hanya ada di Indonesia ini," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA