Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Pelaku Industri Didorong Percepat Transformasi Digital

Jumat 30 Oct 2020 00:15 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Satria K Yudha

Ilustrasi Industri 4.0

Ilustrasi Industri 4.0

Foto: pixabay
Digitalisasi telah membantu beradaptasi dengan era kenormalan baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaku industri didorong melakukan percepatan transformasi digital dan elektrifikasi. Sebab, digitalisasi dan elektrifikasi dinilai menjadi solusi dalam mengatasi krisis iklim dan memulihkan perekonomian.

Seruan tersebut akan menjadi agenda utama dalam ajang Innovation Summit East Asia 2020 yang digelar secara virtual pada 4 November 2020. Dalam ajang tersebut, para peserta dari berbagai negara dapat mempelajari mengenai peran penting elektrifikasi, digitalisasi, inovasi, manajemen energi, dan otomasi industri dalam transisi menuju dunia yang rendah karbon untuk membatasi kenaikan pemanasan global.

Chairman and CEO Schneider Electric Jean-Pascal Tricoire mengatakan, pihaknya mendorong pelaku industri untuk mempercepat transformasi digital agar lebih siap dalam menghadapi pergolakan yang disebabkan oleh krisis iklim. Selain itu, agar lebih sigap menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun ini. 

Ia mengatakan, digitalisasi telah membantu beradaptasi dengan era kenormalan baru. Pengoperasian jarak jauh yang marak dilakukan di masa pandemi dapat menjaga kelangsungan bisnis. "Inovasi dan konektivitas digital telah mengubah cara hidup dan bekerja. Selain itu, berdampak positif terhadap lingkungan, mendorong pemulihan ekonomi dan aspek keberlanjutan untuk kita semua,” kata dia dalam siaran pers, Kamis (29/10). 

Cluster President Schneider Electric Indonesia dan Timor Leste Xavier Denoly menambahkan, listrik adalah energi yang paling efisien dan vektor terbaik untuk dekarbonisasi. Sedangkan digitalisasi menghadirkan peluang efisiensi baru yang luar biasa. 

Perpaduan keduanya akan menciptakan lingkungan yang lebih pintar dan ramah lingkungan. Ia menilai, menyelesaikan krisis iklim tidak akan bisa dilakukan tanpa mengubah desain bangunan. 

"Bangunan adalah fondasi dekarbonisasi global. Saat ini, bangunan mengonsumsi lebih dari 50 persen energi listri atau sepertiga dari konsumsi energi dunia dan menyumbang 40 persen emisi karbon global."

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA