Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Kasus Macron dan Pelecehan Karikatur Nabi SAW Satukan Umat?

Kamis 29 Oct 2020 20:30 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Seorang pengunjung sebuah supermarket di Yaman berdiri  di samping rak kosong barang buatan Prancis di ibukota Yaman, Sanaa, Senin (26/10).

Seorang pengunjung sebuah supermarket di Yaman berdiri di samping rak kosong barang buatan Prancis di ibukota Yaman, Sanaa, Senin (26/10).

Foto: AP/Hani Mohammed
Dunia Islam bersatu mengutuk sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah isu telah memecah belah umat Islam dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konflik Suriah, misalnya, Turki dan Iran mendukung pihak yang berlawanan. 

Sementara negara-negara Teluk memboikot negara tetangganya Qatar  dan Pakistan mengecam kurangnya dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA) dalam perselisihannya atas masalah Kashmir dengan India.

Namun baru-baru ini, aksi dan pernyataan provokatif yang anti-Islam dari Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menjadi landasan bersama bagi masyarakat dan sebagian besar pemimpin di dunia Muslim untuk bersatu. Seperti diketahui, Macron justru mendukung karikatur Nabi Muhammad SAW yang dianggap penghinaan oleh umat Islam. 

Baca Juga

Dari mulai Rabat hingga Islamabad, Ankara hingga Teheran, Kairo, Dhaka dan Kuwait, umat Islam telah bereaksi dengan kemarahan terhadap sikap Prancis tentang Islam dan karikatur Nabi Muhammad.

Di Bangladesh, kota yang merupakan konsumen besar parfum dan kosmetik Prancis, puluhan ribu pengunjuk rasa mengambil bagian dalam aksi demonstrasi yang menyerukan pemboikotan barang-barang buatan Prancis.

Sementara toko-toko di Turki, Pakistan, Qatar, Kuwait, dan Yordania, menyingkirkan keju dan kosmetik Prancis dari rak mereka sebagai ungkapan kemarahan atas sikap agresif Macron.  

Sejumlah video yang diunggah daring, yang dibagikan orang-orang dari berbagai negara, menunjukkan staf di toko-toko melemparkan toples selai dan mie instan dengan lambang 'buatan Prancis" ke dalam troli dan membawanya pergi.  

Di tempat lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga mendukung seruan boikot terhadap produk Prancis. "Sama seperti mereka mengatakan 'Jangan beli barang dengan merek Turki' di Prancis, saya menyerukan kepada semua warga saya dari sini untuk tidak pernah membantu merek Prancis atau membelinya," kata Erdogan pada Senin lalu, seperti dilansir di TRT World, Kamis (29/10). 

BACA JUGA: Iran Tegaskan Normalisasi Hubungan Negara Arab-Israel tak akan Berlangsung Lama

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA