Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Erdogan ke Putin: 2.000 Milisi Kurdi Bertempur untuk Armenia

Kamis 29 Oct 2020 19:58 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: Turkish Presidency via AP, Pool
Putin mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya keterlibatan Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengungkapkan ketulusan Ankara mengakhiri konflik di Nagorno-Karabakh antara Armenia dan Azerbaijan. Ia pun percaya pada ketulusan Rusia yang selama berminta dengan Armenia.

Erdogan mengaku sudah memberitahu Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa anggota Partai Pekerja Kurdistan (PKK) bertempur di sisi Armenia.

"Mereka memberitahu saya 'Anda mengirim pasukan dari Timur Tengah, dari Suriah ke Azerbaijan, Anda mengirim pasukan asing' dan saya beritahu Pak Presiden (Putin) saat itu, Armenia telah mengambil sekitar 2.000 anggota PKK dan People's Protection Units (YPG) dengan gaji 600 dolar, mereka berperang di sana dan sebagai pasukan asing," kata Erdogan seperti dilansir media Turki Hurriyet Daily News pada Kamis (29/10).

Baca Juga

Erdogan mengatakan, Putin mengaku tidak mengetahui Armenia mengambil banyak pasukan asing dari Kurdi.  "Anda harus fokus pada ini 'Apakah Anda tahu dari mana asal anggota PKK dan YPG ini? Saya tanya, mereka bekerja di Suriah dan sebagian datang dari Suriah, dan kami membutuhkan solidaritas dalam hal ini, tentu, saya tidak yakin Pak Putin akan mengindahkan PKK dan YPG tapi ia harus memberitahu (Perdana Menteri Armenia Nikol) Pashinyan," tambah Erdogan.

Erdogan mengajak Putin untuk segera mengakhir perang Armenia-Azerbaijan.  Ia memberitahu Putin bahwa Turki dan Rusia dapat mengakhiri konflik tersebut bersama-sama.  "Anda menggelar pertemuan dengan Pashinyan dan saya akan menggelar pertemuan dengan saudara saya (Presiden Azerbaijan) Ilham Aliyev," katanya.

Putin melakukan sambungan telepon dengan Erdogan pada 27 Oktober lalu. Presiden Rusia mengungkapkan keprihatinannya atas sikap Turki yang meningkatkan keterlibatan mereka dalam pertempuran di Timur Tengah.

Erdogan mengatakan Turki memiliki hak yang sah untuk bertindak sekali lagi. Bila milisi tidak membersihkan perbatasan dengan Suriah. "Bila teroris tidak melakukan pembersihan seperti yang dijanjikan kami memiliki hak untuk melakukan mobilisasi sekali lagi," katanya.

Erdoğan juga mengecam keras serangan udara Rusia yang menewaskan puluhan milisi pro-Turki di Suriah. "Serangan Suriah di pusat pelatihan tentara nasional Suriah di Idlib menunjukkan mereka tidak ingin perdamaian jangka panjang di kawasan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA