Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Turki Masih Belum Terima Karikatur Pelecehan Erdogan

Kamis 29 Oct 2020 19:52 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Dwina Agustin/ Red: Nashih Nashrullah

Turki menyatakan akan mengambil langka hukum karikatur Erdogan  Bendera Turki di jembatan Martir, Turki

Turki menyatakan akan mengambil langka hukum karikatur Erdogan Bendera Turki di jembatan Martir, Turki

Foto: AP
Turki menyatakan akan mengambil langka hukum karikatur Erdogan

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS— Setelah dibanjiri kritik karena mencetak karikatur Nabi Muhammad SAW, hari ini, Kamis (29/10), Charlie Hebdo, surat kabar pekanan Prancis, menampilkan karikatur Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan seorang wanita berhijab setengah telanjang dengan tulisan, "Erdogan, secara pribadi dia lebih menyenangkan."

"Saya mengutuk publikasi tidak bermoral majalah Prancis yang tidak dapat diperbaiki ini tentang presiden kami," ujar Wakil Presiden Turki, Fuat Oktay, di Twitter, menyerukan komunitas internasional untuk berbicara dan menentang sampul baru tabloid kontroversial itu.

Pada Rabu kemarin, Turki menyatakan akan mengambil semua langkah hukum dan diplomatik yang diperlukan sebagai tanggapan atas perilisan karikatur Presiden Recep Tayyip Erdogan. Direktorat Komunikasi Turki pada Rabu (28/10), menyatakan, para eksekutif media asal Prancis Charlie Hebdo akan mendapatkan penyidikan dari jaksa Ankara. 

Baca Juga

"Rakyat kita seharusnya tidak ragu bahwa semua langkah hukum dan diplomatik yang diperlukan akan diambil untuk melawan karikatur tersebut," ujar pernyataan Direktorat Komunikasi Turki.

Direktur Komunikasi Turki, Fahrettin Altun, menyatakan, posisi Turki yang menentang setiap kekerasan dan tindakan terorisme terhadap warga sipil. "Pertempuran kami melawan langkah-langkah kasar, bermaksud jahat dan menghina ini akan berlanjut sampai akhir dengan alasan tetapi tekad," kata Direktorat tersebut.

Hubungan Turki dan Prancis terus memanas sejak keterlibatan keduanya dalam konflik Nagorno-Karabakh, ditambah insiden dipenggalnya Samuel Paty, seorang guru sejarah Prancis beberapa hari lalu. 

Paty diketahui dibunuh seorang ekstremis Islam Chechnya di Prancis beberapa hari setelah Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut Paty sebagai pahlawan dan menyudutkan Islam, yang dia sebut sebagai 'agama yang sedang dalam krisis', memicu protes dan kritik dari banyak pihak. 

Macron juga menambahkan bahwa Prancis akan terus memproduksi kartun dan membela hak siapa pun untuk melakukannya.

Menanggapi pembelaan karikatur, banyak kepala negara di dunia Arab dan Muslim yang telah menyerukan pemboikotan barang-barang Prancis. Sejumlah protes kepada Prancis dan Macron, sebagai pencela agama dan penghasut Islamofobia, juga telah digangungkan secara global.

Di sisi lain, pejabat Prancis mulai memperketat keamanan di sekitar situs-situs keagamaan, mendesak warga negara Prancis yang tinggal di luar negeri untuk menahan diri menghadiri segala bentuk gerakan anti-Macron atau pemboikotan.

Sementara itu, seorang juru bicara Komisi Eropa melarang Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan untuk melancarkan boikot barang-barang Prancis, dengan menyatakan bahwa hal itu akan membawa Turki lebih jauh dari Uni Eropa. 

Prancis juga menyerukan agar Turki dikecam pada KTT Uni Eropa berikutnya, yang akan semakin mengkerdilkan harapan Turki untuk dimasukkan ke dalam Uni Eropa.

sumber: https://www.businessinsider.com/macron-international-backlash-boycott-of-french-goods-over-islam-comments-2020-10?r=US&IR=T

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA