Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Hina Nabi Muhammad, Ikadi Minta Presiden Prancis Minta Maaf

Kamis 29 Oct 2020 12:38 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Agus Yulianto

Ahmad Satori Ismail, Ketua Ikatan dai Indonesia

Ahmad Satori Ismail, Ketua Ikatan dai Indonesia

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Ikadi menyeru umat Islam memboikot produk negara Perancis yang menghina Nabi SAW.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Prancis, Emmanuel Macron, beberapa hari terakhir menerima banyak protes dan kecaman. Hal ini sebagai akibat dari pernyataannya yang dinilai menghina Nabi Muhammad SAW. 

Menyoroti hal ini, Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (PP Ikadi) pun mengeluarkan pernyataan.   "Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (PP Ikadi) mengecam keras segala bentuk penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW dan agama Islam, seperti yang dilakukan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Kami menuntutnya untuk meminta maaf kepada kaum Muslim di seluruh dunia," kata IKADI dalam pernyataan yang didapat Republika, Kamis (29/10).

Pernyataan yang diketahui Ketua Umum PP Ikadi, Prof. KH. Ahmad Satori Ismail, serta Sekretaris Jenderal Dr. H. Ahmad Kusyairi Suhail, ini juga mengutuk legalisasi penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan tameng kebebasan berekspresi maupun dalih toleransi.

Ikadi menyebut hakikatnya alasan di atas hanya akan menimbulkan gelombang intoleransi, kegaduhan antar ummat beragama dan Islamphobia.

Selanjutnya, Ikadi mengimbau semua pengurus, anggota dan simpatisan Ikadi, maupun seluruh umat Islam untuk memboikot produk negara Perancis yang menghina Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan ssbagai ekspresi cinta umat Muslim kepada Beliau.

Kepada Pemerintah Indonesia, selaku negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Ikadi meminta agar mengambil sikap tegas dan langkah diplomatik konkrit. "Kalau perlu Duta Besar Prancis dipulangkan ke negerinya," lanjut keterangan tersebut.

Kepada seluruh umat Muslim, diminta semakin memperkuat //Ukhuwwah Islamiyah// atau persatuan dan persaudaraan sesama muslim. Penguatan ini berguna dalam menghadapi berbagai macam rongrongan dan tantangan yang semakin kompleks.

"Jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan lebih mengenal keagungan pribadi dan mengamalkan ajaran-Nya," tulis Ikadi.

Terakhir, Ikadi mengajak seluruh umat Islam untuk memanjatkan do'a dan melaksanakan Qunut Nazilah. Semoga Allah ta'ala mengangkat beragam bencana, musibah dan wabah pandemi Covid-19 yang menimpa dunia, serta mengembalikan //'Izzatul Islam wal Muslimin//.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA