Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

'Jangan Biarkan Anak Ukur Martabatnya dengan Hasil Ujian'

Kamis 29 Oct 2020 10:00 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda

Sepasang anak kembar murid SD Bakti Nusantara mengerjakan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap secara daring di kediamannya di Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (8/6/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayan mewajibkan kegiatan belajar mengajar serta ujian dilakukan secara daring oleh peserta didik hingga pandemi COVID-19 terkendali.

Sepasang anak kembar murid SD Bakti Nusantara mengerjakan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap secara daring di kediamannya di Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (8/6/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayan mewajibkan kegiatan belajar mengajar serta ujian dilakukan secara daring oleh peserta didik hingga pandemi COVID-19 terkendali.

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Ujian di sekolah mungkin mudah bagi sebagian anak, tetapi sukar bagi sebagian lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak Anda sudah terima rapor tengah semester? Bagaimana hasilnya?

Banyak keluarga telah menyaksikan anak-anak stres dengan belajar dan bersiap ujian. Setiap kali ujian berlangsung dan membuat siswa stres, penyiar radio asal Selandia Baru, Kate Hawkesby bertanya-tanya tentang betapa tumpulnya ujian sebagai alat ukur.

Ben Fogle, seorang petualang, pembuat film dokumenter, dan penakluk hutan belantara mengatakan, dirinya selalu gagal setiap kali ujian. Pendaki Everest, pendayung yang pernah menyusuri Atlantik, dan orang yang balapan melintasi Antarktika itu merasa heran karena pada 2020, orang-orang masih terpaku dengan menjadikan ujian sebagai media mendefinisikan potensi dan kemampuan intelektual masyarakat.

“Setiap orang jenius, tetapi jika kalian menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani seluruh hidupnya dengan percaya bahwa dia bodoh (karena tak bisa melakukannya),” kata Fogle, mengutip kalimat terkenal Einstein.

Fogle menunjukkan bahwa pengalaman hidupnya menunjukkan maksud yang sama. Artinya, beberapa orang memiliki kemampuan untuk menyimpan pengetahuan dan informasi dan mengeluarkannya dalam kondisi ujian, sementara yang lain gagal karena tekanan.

Dari pengalamannya sendiri, Fogle menghabiskan seumur hidup untuk menyembuhkan luka-luka dari kegagalan masa kanak-kanak. Kegagalan telah menghilangkan kepercayaan diri dan harga dirinya sendiri.

Setelah menyaksikan lima anak dan teman-temannya menyelesaikan sistem sekolah dan universitas, Hawkesby menyadari bahwa memang benar ujian mudah bagi sebagian orang, tapi juga perjuangan berat bagi yang lain. Beberapa anak yang paling tidak cerdas adalah orang yang paling berempati, paling kreatif, atau menarik yang pernah ditemui.

Baca Juga

Pun beberapa dari yang terpintar adalah yang paling tidak berempati, kreatif, atau memiliki kesadaran sosial. Jadi apakah hal itu membuat anak-anak lebih baik dari yang lain? Tentu tidak.

Namun, menurut Hawkesby, memang benar bahwa mereka yang merasa tak pintar di sekolah atau perlu belajar lebih keras lagi, ternyata memiliki rasa percaya diri lebih rendah. Karena satu-satunya tolok ukur, satu-satunya pengukuran yang dilakukan pada anak-anak usia sekitar 13 hingga 18 tahun adalah sistem penilaian kuno berdasarkan bagaimana mereka tampil di bawah tekanan dan apa yang dapat diingat.

Seorang kepala sekolah yang terkenal menulis kepada orang tua dengan mengatakan, "Harap diingat bahwa di antara siswa yang mengikuti ujian ada seorang seniman yang tidak mengerti matematika, seorang pengusaha yang tidak mengerti bahasa Inggris, seorang musisi yang tidak mengerti kimia, seorang atlet yang tidak memahami fisika. Jika anak Anda tidak mendapat nilai tertinggi, jangan menghilangkan kepercayaan diri atau martabatnya, jangan menilai mereka karena ini hanya ujian. Anak-anak Anda mungkin menaklukkan dunia, nilai ujian yang buruk tidak akan menghilangkan bakat mereka, dan ingat bahwa dokter dan insinyur bukanlah satu-satunya orang yang bahagia di dunia.”

Tahun ini, khususnya, sangat menegangkan bagi siswa. Karena itu, pastikan bahwa kita tidak membiarkan anak-anak menghargai dirinya hanya dari hasil ujian.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA