Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

OVO Salurkan Bantuan Kartu Prakerja ke 1,3 Juta Peserta

Rabu 28 Oct 2020 08:53 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

Jadi Mitra Pemerintah, OVO Salurkan Bantuan Kartu Prakerja ke 1,3 Juta Peserta. (FOTO: Boyke P. Siregar)

Jadi Mitra Pemerintah, OVO Salurkan Bantuan Kartu Prakerja ke 1,3 Juta Peserta. (FOTO: Boyke P. Siregar)

Jadi Mitra Pemerintah, OVO Salurkan Bantuan Kartu Prakerja ke 1,3 Juta Peserta

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Platform pembayaran digital OVO menjadi salah satu penyalur untuk bantuan Prakerja. Perusahaan mencatat sudah menyalurkan ke lebih dari 1,3 juta penerima manfaat Kartu Prakerja.

Selain meningkatkan inklusi keuangan, dengan cara tersebut perusahaan juga bisa melakukan edukasi pada masyarakat tentang keuangan digital. Sebab perusahaan menyadari kerja sama antara pemerintah dan pelaku industri keuangan diperlukan guna menciptakan dan menggerakkan masyarakat non-tunai atau cashless society.

"Penyaluran insentif Kartu Prakerja secara digital membuat masyarakat semakin terbiasa dengan cara penggunaan dan fitur-fitur OVO. Ke depannya, untuk memaksimalkan upaya tersebut, kami ingin lebih banyak berkontribusi menyukseskan program pemerintah dan BUMN, terlebih situasi pandemi sekarang ini, banyak program yang membutuhkan infrastruktur digital," tutur Natasha Ardiani VP Lending OVO dalam siaran pers, Selasa (27/10/2020).

Baca Juga: Tabungan Emas Pegadaian Kini Hadir di Aplikasi Shopee

Natasha menilai saat pandemi ini, kebutuhan akan layanan keuangan digital benar-benar meningkat sehingga OVO dan penyedia layanan keuangan digital lainnya dituntut untuk terus beradaptasi dan memprioritaskan kecepatan, keamanan, dan efisiensi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, pandemi ini merupakan kesempatan emas bagi pemerintah untuk mendorong adopsi keuangan digital guna mempercepat transformasi digital dan inklusi keuangan. Menurutnya, peluang keuangan digital Indonesia sekarang hampir sama seperti saat wabah virus SARS merebak di China 18 tahun silam. Pada saat itu, pemerintah China berhasil mengubah kebiasaan masyarakat mereka untuk beralih ke keuangan digital dalam aktivitas pembayaran mereka sehari-hari.

"Kami percaya peluang bagi industri tekfin di Indonesia sangat besar. Dengan adanya pandemi, banyak perubahan perilaku masyarakat yang terjadi akhirnya menciptakan gaya hidup baru, terutama pada saat berbelanja, mereka mulai banyak berpindah ke transaksi digital," tutup Natasha.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA