Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Perawat Berisiko Tinggi Tertular Covid-19

Rabu 28 Oct 2020 06:11 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Dwi Murdaningsih

 Perawat merawat pasien dengan virus corona di unit perawatan intensif di situs Etterbeek-Ixelles di Rumah Sakit Iris Sud di Brussel, Belgia, 20 Oktober 2020. Belgia menyaksikan peningkatan infeksi virus corona yang mendorong pemerintah untuk memberlakukan pembatasan baru yang diberlakukan.

Perawat merawat pasien dengan virus corona di unit perawatan intensif di situs Etterbeek-Ixelles di Rumah Sakit Iris Sud di Brussel, Belgia, 20 Oktober 2020. Belgia menyaksikan peningkatan infeksi virus corona yang mendorong pemerintah untuk memberlakukan pembatasan baru yang diberlakukan.

Foto: EPA-EFE/STEPHANIE LECOCQ
Di Amerika, sekitar 6 persen pasien rumah sakit berprofesi sebagai perawat.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA-- Diantara petugas kesehatan, perawat khususnya memiliki risiko signifikan tertular Covid-19. Sekitar 6 persen orang dewasa yang dirawat di rumah sakit dari Maret hingga Mei 2020 adalah perawat.

Sekitar seperempat atau 27 persen dari pekerja dirawat di unit perawatan intensif. Sebanyak empat persen dari mereka meninggal selama mereka dirawat di rumah sakit.

Sejak awal pandemi di Amerika Serikat, personel medis garis depan mengeluhkan kekurangan Alat Pelindung Diri (APD). Pasokan menjadi terbatas di daerah-daerah tertentu di negara itu karena gelombang wabah virus corona telah mencapai rekor harian.

"Kami membutuhkan lebih banyak pengujian," kata Asisten Direktur Praktek Keperawatan di National Nurses United, Michelle Mahon dilansir dari nytimes, Selasa (27/10).

Dia menyebut temuan itu tidak mengherankan. Mahon mengkritik pejabat federal karena tidak memiliki pedoman yang lebih kuat. Organisasinya telah bersuara sejak awal pandemi tentang bahaya yang mereka hadapi tanpa pasokan dan perlindungan yang memadai.

Organisasinya yang mengeluarkan laporan tentang kematian pekerja bulan lalu. Dia mengatakan sekitar 2.000 petugas kesehatan sejauh ini meninggal karena virus tersebut.

Dia mengatakan bahwa pekerja harus diuji lebih sering. Dengan begitu mereka dapat diidentifikasi dan diisolasi sehingga infeksi tidak menyebar.

Meskipun para pekerja mungkin mengambil lebih banyak tindakan pencegahan dan perawatan telah meningka, analisis tersebut menggarisbawahi seberapa rentan banyak individu karena kondisi kesehatan yang mendasarinya. Banyak perawat yang memiliki diabetes dan tekanan darah tinggi.  

Baca Juga

Studi itu menunjukkan hampir tiga perempat dari mereka yang dirawat di rumah sakit mengalami obesitas, kategori berisiko tinggi untuk kematian. Mayoritas pernah merawat pasien secara langsung, baik di rumah sakit, di rumah atau di sekolah.  

Tidak dapat ditentukan apakah individu tertular virus di tempat kerja atau di komunitas. Namun, penelitian tersebut menyoroti potensi risiko yang dihadapi oleh perawat yang melayani sebagai pekerja lini depan.

"Karena kontak pasien yang sering dan dekat yang menyebabkan keterpaparan kumulatif yang diperpanjang  waktu. Sebagian besar pekerja rawat inap dalam analisis adalah perempuan.  Mereka juga cenderung lebih tua dan lebih banyak adalah karyawan kulit hitam daripada keseluruhan kelompok pekerja perawatan kesehatan yang tertular virus," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA