Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

LIPI: Pembangunan Jurassic Park tak Ganggu Komodo

Rabu 28 Oct 2020 00:09 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Indira Rezkisari

Seekor komodo berada dalam pengawasan penjaga di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (14/10).

Seekor komodo berada dalam pengawasan penjaga di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (14/10).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Komodo dianggap hewan yang sudah lama terbiasa dengan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Herpetofauna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Evy Arida mengatakan pembangunan Jurassic Park di Loh Buaya, Pulau Rinca, NTT, tidak akan membuat populasi komodo menurun. Kondisi komodo saat ini disebutnya baik-baik saja.

Populasi mereka lima tahun terakhir ini stabil. Tidak ada penurunan maupun kenaikan yang signifikan. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

"Saya pikir hewan komodo ini viral karena foto yang beredar, ya. Yang berhadapan dengan truk. Komodo itu sudah biasa berdampingan dengan manusia. Sehingga tidak usah dibesar-besarkan masalahnya. Mereka saat ini baik-baik saja dan dikelola baik dengan Taman Nasional," katanya saat dihubungi Republika, Selasa (27/10).

Kemudian, ia melanjutkan pemerintah mengambil keputusan untuk membangun wisata di sana dengan konsep untuk melindungi komodo. Bukan untuk merusak ekosistem komodo. Dalam pembangunannya pemerintah juga harus berhati-hati agar komodo tidak merasa terganggu.

"Harus ada tim yang memikirkan jalan mana yang ada sarang komodo. Terus musim telur dan kawinnya kapan. Itu harus diperhatikan. Jangan sampai mereka jadi tertekan untuk menuju sarangnya atau bersama komodo lain," kata dia.

Ia menambahkan masyarakat juga harus tahu tentang komodo. Makanya pemerintah memberikan sarana edukasi dengan pembangunan Jurassic Park.

Ia menjelaskan, ada tiga macam dalam upaya konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. "Jadi, masyarakat bisa berwisata melihat komodo dan sadar akan keanekaragaman hayati. Saya pikir komodo itu sudah terbiasa dengan manusia walaupun ada wisatawan mereka terbiasa," kata dia.

Hewan komodo sudah terbiasa dengan manusia dari beberapa puluh tahun lalu. Mereka makan bekas sisa makanan manusia. Sehingga mereka tidak introvert dan bergantung kepada manusia.

"Komodo ini hewan jinak. Terakhir saya ke sana pada Februari lalu. Mereka ada di sekitar rumah warga, ya biasa saja. Karena mereka sudah terbiasa dengan manusia. Yang penting komodo ini harus kami jaga jangan sampai mereka terganggu ekosistemnya," kata dia.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno mengatakan aktivitas penataan sarana dan prasarana wisata di Pulau Rinca dinilai tidak membahayakan populasi biawak komodo di areal Lembah Loh Buaya seluas 500 hektare atau sekitar 2,5 persen dari luas Pulau Rinca yang mencapai 20.000 hektare.

"Berdasarkan pengamatan, jumlah biawak komodo yang sering berkeliaran di sekitar area penataan sarpras di Loh Buaya diperkirakan kurang lebih 15 ekor. Untuk menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap biawak komodo termasuk para pekerja, seluruh aktivitas penataan sarpras diawasi oleh 5 sampai 10 ranger setiap hari," katanya dalam keterangan tertulis.

KLHK secara intensif melakukan pemeriksaan keberadaan biawak komodo termasuk di kolong-kolong bangunan, bekas bangunan dan di kolong truk pengangkut material. Kegiatan penataan sarana dan prasarana dilakukan di dermaga loh buaya, pengaman pantai, evelated deck, pusat informasi, pondok ranger/peneliti/pemandu berada pada wilayah administrasi Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA