Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Covid-19 Tampak Picu Penuaan Dini Otak dan Turunkan IQ

Selasa 27 Oct 2020 14:55 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi Covid-19. Virus corona tipe baru yang menyebabkan Covid-19 tampak membuat penderitanya mengalami penurunan IQ dan penuaan dini di otak.

Ilustrasi Covid-19. Virus corona tipe baru yang menyebabkan Covid-19 tampak membuat penderitanya mengalami penurunan IQ dan penuaan dini di otak.

Foto: Pixabay
Covid-19 tampak berdampak besar pada otak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otak bisa menjadi bagian tubuh yang terdampak besar saat seseorang terkena infeksi virus corona jenis baru, SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Dalam sebuah penelitian di Inggris, ditemukan bahwa otak pasien mungkin terdampak, di mana terjadi penurunan IQ dan penuaan dini di pusat sistem saraf tersebut hingga 10 tahun.

Tes pada kemampuan kognitif orang-orang yang menderita Covid-19 menunjukkan bahwa kinerja mereka lebih buruk dibanding yang tidak terinfeksi virus corona jenis baru. Bahkan, orang yang hanya menunjukkan gejala ringan mendapat skor lebih rendah pada tes dibandingkan mereka yang tidak tertular.

Penelitian dipimpin oleh Adam Hampshire dan dilakukan oleh para peneliti dari Imperial College, University of Cambridge, King's College London, dan University of Chicago. Hasil kognitif 84.285 partisipan dianalisis dari sebuah studi yang disebut Great British Intelligence Test.

Pasien Covid-19 yang terkena dampak paling parah dilaporkan menderita penurunan IQ 8,5. Studi juga menemukan bahwa orang-orang dengan gejala parah penyakit ini yang harus ditempatkan dalam perawatan intensif mungkin dapat menderita masalah mental yang lebih parah.

Orang-orang yang mengidap Covid-19 memiliki skor yang relatif rendah dalam tes logika, makna kata, orientasi spasial, perhatian, dan pemrosesan emosi. Bahkan, termasuk mereka yang telah pulih sepenuhnya dari virus.

Laporan tersebut menemukan adanya konsekuensi kognitif kronis karena Covid-19. Individu yang pulih setelah diduga terinfeksi virus corona jenis baru atau dinyatakan positif memiliki kinerja yang lebih buruk pada tes kognitif di berbagai domain dibanding yang diharapkan, mengingat usia rinci, dan profil demografis mereka.

"Defisit ini berskala dengan tingkat keparahan gejala dan terbukti di antara mereka yang tidak dirawat di rumah sakit,” tulis studi, dilansir The Sun, Senin (26/10).

Dari orang-orang yang ikut serta dalam tes, 60 di antaranya mengatakan, mereka harus memakai ventilator saat dirawat karena Covid-19. Sementara, 147 lainnya mengatakan mereka dirawat di rumah sakit karena terinfeksi virus corona jenis baru.

Laporan dalam studi yang belum ditinjau sejawat ini juga menyerukan penelitian lebih lanjut tentang efek ‘Long Covid’. Di Inggris, Menteri Kesehatan Matt Hancock memperingatkan bahwa satu dari 10 orang di negara itu dapat terkena Covid-19.

Diperkirakan, ratusan ribu orang yang terkena Covid-19 masih menderita gejala termasuk sesak napas serta kelelahan dalam beberapa pekan dan bulan setelah mereka tertular virus. Bahkan, sekitar satu dari 50 pasien mengalami kondisi ini selama tiga bulan.

Peneliti dari King’s College London mengatakan, ada lima faktor yang membuat Anda berisiko menderita Covid-19 secara terus menerus. Istilah umum mencakup mereka yang telah sembuh, tetapi sejak itu memiliki masalah seperti kelelahan, pernapasan, dan masalah kesehatan mental.

"Virus dapat menyerang siapa saja, atau usia dan latar belakang apa pun. Kami telah melihat jumlah orang muda, bugar, dan sehat yang mengkhawatirkan yang menderita gejala yang melemahkan beberapa bulan setelah tertular Covid-19,” jelas Hancock, berbicara mengenai Long Covid.

Sebuah studi oleh King's College London menunjukkan bahwa satu dari 20 orang yang mengalami Covid-19 cenderung memiliki gejala virus, seperti kelelahan, sesak napas, nyeri otot, dan masalah neurologis selama delapan pekan atau lebih. Tapi, pada orang dewasa di bawah 50 tahun itu lebih seperti satu dari sepuluh.

"Tampaknya ada beberapa korelasi yang menyiratkan bahwa ini lebih merupakan masalah di kalangan orang muda. Memahami Long Covid ini masih dalam tahap awal dan dibutuhkan lebih banyak penelitian lagi,” kata Hancock.

Lebih lanjut, Hancock mengatakan, telah bertemu orang-orang berusia 20-an dan 30-an yang tidak dapat bekerja dan superti menghabiskan semua energi mereka. Hidup dengan efek virus corona jenis baru telah sepenuhnya mengubah hidup mereka.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA