Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Jamu Herbal untuk Ternak Karya Prodi Peternakan UMM

Selasa 27 Oct 2020 11:05 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Gita Amanda

Tim Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan jamu herbal untuk ternak bernama SIYUNA.

Tim Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan jamu herbal untuk ternak bernama SIYUNA.

Foto: Humas UMM
Jamu sangat memungkinkan sebagai pengganti AGP dalam pakan ternak.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Tim Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan jamu herbal untuk ternak. Produk bernama SIYUNA ini berhasil diperoleh melalui Hibah Kementerian RISTEK/BRIN tahun 2020.

Ketua Tim PPUPIK, Adi Sutanto menyatakan, ide produk SIYUNA dilatarbelakangi banyaknya penggunaan antibiotik sebagai growth promotor (AGP) dalam pakan ternak di seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar. "Dan dalam waktu yang lebih cepat serta untuk mencegah terjadinya infeksi," katanya.
 
Namun, penggunaan AGP dalam pakan memberikan dampak negatif dan sangat merugikan, baik dari segi ekonomis maupun kesehatan masyarakat. Beberapa dampak negatif penggunaan antibiotik sintetis antara lain membatasi pertumbuhan dan kolonisasi sejumlah bakteri usus yang menguntungkan. Dalam hal ini termasuk Lactobacillus (pensilin), Bifidobacteria (Ampicillin), Boeteroides (Clindamycin) dan Enterococci (Kanamycin).

Selain menyebabkan resistensi, AGP juga sering menyebabkan residu antibiotik dalam daging dan organ-organ visceral. Situasi ini sangat mungkin bisa mengganggu keamanan pangan asal daging khususnya daging unggas.

Menurut Adi, jamu sangat memungkinkan sebagai pengganti AGP dalam pakan ternak. Pasalnya, jamu bersifat alami, tanpa efek samping, karena dalam herbal terkandung berbagai zat aktif (fitobiotik). Beberapa di antaranya seperti terpenoid, phenolic (Tanin), glikosida dan alkaloid (alkohol, aldehida, keton, ester, eter, lakton).
 
Fitobiotik secara sinergi bisa merangsang enzim pencernaan endogen. Dapat pula bertindak sebagai antioksidan, agen antimikroba atau imunomodulator. "Indonesia terkenal sebagai negara  yang kaya akan flora, ditemukan beberapa ribu jenis tanaman obat di Indonesia yang sangat potensial digunakan sebagai bahan pakan tambahan (feed suplement) maupun sebagai feed additive," jelasnya dalam pesan resmi yang diterima Republika, Senin (26/10) malam.
 
SIYUNA sendiri merupakan produk jamu ternak yang saat ini diformulasikan untuk ternak ayam. Kemudian sedang dikembangkan pula untuk ternak nonunggas. Tim PPUPIK Prodi Peternakan UMM juga saat ini sedang membangun kerja sama dengan pelaku usaha dan kelompok peternak yang berorientasi pada pengembangan ternak berbasis herbal.
 
Produk jamu herbal Siyuna berbahan baku jahe, kencur, kunyit, laos, lempuyang dan kunyit. Jamu ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas (Siyuna Jaga Produktif) dan nafsu makan (Siyuna Jaga Rakus). Kemudian juga untuk menjaga sehat (Siyuna Jaga Sehat).

Adi berharap, produknya bisa meningkatkan keterampilan dan pengalaman kerja bagi mahasiswa jurusan peternakan. Khususnya, terkait dengan program PUP di jurusan Peternakan UMM. Lalu menumbuhkan budaya komersialisasi hasil penelitian dosen maupun mahasiswa di jurusan Peternakan UMM.

"Dan membangun kerja sama dengan pelaku usaha yang bergerak dalam pemasaran produk pangan  organik,” ungkap Adi.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA