Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Islam-Muslim di Eropa Modern, akan Selalu Jadi Kelas Kedua ?

Senin 26 Oct 2020 19:26 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Meiliza Laveda/ Red: Nashih Nashrullah

Sebagian besar umat Islam di Eropa modern adalah minoritas. Seorang perempuan membaca pengumuman penutupan Masjid Agung Pantin di pinggiran Paris, Prancis, 20 Oktober 2020. Masjid tersebut ditutup usai pembunuhan seorang guru beberapa hari sebelumnya.

Sebagian besar umat Islam di Eropa modern adalah minoritas. Seorang perempuan membaca pengumuman penutupan Masjid Agung Pantin di pinggiran Paris, Prancis, 20 Oktober 2020. Masjid tersebut ditutup usai pembunuhan seorang guru beberapa hari sebelumnya.

Foto: Reuters/Antony Paone
Sebagian besar umat Islam di Eropa modern adalah minoritas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kolumnis Ergün Yildirim menulis sebuah artikel di media Turki, Yeni Safak, yang membahas ihwal Muslim di Eropa. Dia mengawali tulisannya dengan menyampaikan kajian asosiologi yang dilakukan di Jerman yang terbit bulan ini. Kajian tersebut memberikan informasi yang cukup mencerahkan terkait keadaan imigran Muslim di Eropa.

Penelitian tersebut berjudul, "Sebuah Ancaman Bagi Barat? Membandingkan Nilai Manusia Imigran Muslim, Kristen, dan Non-Religius Pribumi di Eropa Barat", dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Goethe oleh Christian S Czymara, dan Marcus Eisentraut dari Institut Leibniz untuk Ilmu Sosial.

Baca Juga

Studi yang sangat mengacu pada temuan studi yang dilakukan dalam dekade terakhir memberikan informasi yang sangat objektif. Dan juga mencerminkan kesadaran dan sikap Eropa. Ini memberi kesempatan untuk belajar baik tentang keadaan imigran Muslim, dan kesadaran Eropa yang relevan selama periode konflik yang meningkat ini.

Berfokus pada "nilai-nilai kemanusiaan", studi ini mengeksplorasi hubungan antara imigran Muslim, penduduk asli Eropa yang religius dan non-religius. Empat negara Eropa yang menjadi fokus studi adalah Belgia, Prancis, Jerman, dan Swedia, yang meliputi masyarakat terpelajar, kaya, dan industri.

Umat Muslim di empat negara itu jauh lebih muda dari populasi rata-rata dan memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi. Elit politik serta masyarakat umum di sana memiliki keprihatinan tentang perubahan demografis di masa depan terkait dengan meningkatnya arus masuk imigran Muslim.

Tidak ada masalah serius mengenai nilai-nilai di Belgia antara Muslim dan Kristen serta orang Belgia asli yang tidak beragama. Para imigran di Prancis muncul sebagai hasil dari sejarah kolonial Prancis. Tradisi sekularisme Prancis yang kuat dan pemisahan ketat antara gereja dan negara mengarah pada kebijakan yang agak membatasi semua agama, termasuk Islam.

Tidak ada pendidikan agama di sekolah, dan dilarang mengenakan jilbab di sekolah. Dengan demikian, ketegangan antara sekularis dan kelompok agama, dan Muslim pada khususnya menjadi lebih menonjol. Fundamentalisme agama juga tersebar luas di kalangan imigran Muslim di Prancis. Ketika jilbab dilarang di sekolah-sekolah di Perancis, masyarakat Perancis tidak menunjukkan reaksi apapun, karena serangan teroris tersebut menimbulkan opini tertentu di kalangan masyarakat.

Jerman mengidentifikasi imigran Muslim, mayoritas dari Turki, sebagai pekerja tamu (Gastarbeiter). Para imigran ini direkrut untuk berkontribusi pada pasar tenaga kerja Jerman. Fundamentalisme agama kurang menonjol di Jerman dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, dan sebagian besar masyarakat Jerman bersikap positif atau netral terhadap imigran Muslim. Faktanya, Jerman menerima banyak imigran Muslim pada 2015-2016.

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA