Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Perdana Menteri Malaysia Didesak Mundur Usai Penolakan Raja

Senin 26 Oct 2020 14:41 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin

Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin

Foto: Antara/Agus Setiawan
Malaysia diguncang ketidakstabilan politik usai pengunduran diri Mahathir Mohamad

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, menghadapi seruan untuk mengundurkan diri pada Senin (26/10). Kondisi itu terjadi akibat penolakan Raja Malaysia atas permintaannya untuk menyatakan keadaan darurat dalam memerangi Covid-19.

Muhyiddin telah meminta aturan darurat di tengah lonjakan baru infeksi di Malaysia dan pandemi global yang telah menghantam perekonomian. Namun, para kritikus menuduhnya menggunakan langkah itu sebagai dalih untuk menangguhkan kerja parlemen.

Penolakan Raja Al-Sultan Abdullah terlihat semakin mengikis cengkeraman Muhyiddin pada kekuasaan. Hal itu terjadi sebulan setelah pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim, mengatakan mendapat dukungan mayoritas di parlemen untuk membentuk pemerintahan baru.

Baca Juga

Tapi, penolakan itu menjadi umpan bagi para pemimpin partai lain dalam koalisi Muhyiddin dan oposisi. Mereka memintanya untuk mundur setelah tawaran itu ditolak. "Syukurlah, Yang Mulia Raja tidak terpengaruh oleh permainan politik yang dapat menyeret negara ke wilayah yang lebih kritis,” kata pemimpin senior di Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), Ahmad Puad Zarkashi.

Permintaan keadaan darurat dinilai upaya untuk tetap memeprtahankan kekuatan Muhyiddin terhadap posisinya. "Kesejahteraan masyarakat lebih penting. Seharusnya Muhyiddin mundur," kata Ahmad Puad.

Selain menolak permintaan keadaan darurat, Raja juga meminta politisi untuk mengakhiri politik yang dapat mengganggu kestabilan pemerintah. Dia menekankan pentingnya anggaran 2021 yang dijadwalkan akan ditetapkan di depan parlemen pada 6 November.

Negara di Asia Tenggara itu jatuh ke dalam ketidakstabilan politik pada akhir Februari setelah pengunduran diri perdana menteri sebelumnya, politisi veteran Mahathir Mohamad. Keputusan Mahathir mundur setelah koalisinya pecah dan mantan sekutunya Muhyiddin membentuk aliansi baru dengan UMNO untuk menjadi perdana menteri.

Dalam beberapa minggu, Muhyiddin dihadapkan pada krisis virus corona, tetapi koalisi baru yang berkuasa juga dilanda pertikaian. UMNO berusaha untuk memberikan pengaruh yang lebih besar.

Muhyiddin mengadakan rapat kabinet pada Senin yang dijadwalkan dimulai pada 11:30 waktu setempat. Dalam sebuah pernyataan pada Ahad, perdana menteri mengatakan kabinet akan membahas penolakan raja atas permintaannya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA