Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Atalia: Akibat Pandemi Banyak Profesi Beralih Jualan Makanan

Senin 26 Oct 2020 12:34 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Kamil (tengah) mengatakan, Dekranasda mendukung berbagai hal bagi pengembangan pelaku UMKM.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Kamil (tengah) mengatakan, Dekranasda mendukung berbagai hal bagi pengembangan pelaku UMKM.

Foto: Istimewa
Pandemi membuat pendapatan berkurang dan menurunkan daya beli masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pandemi covid 19 ini, membuat banyak orang terpuruk secara ekonomi sehingga melakukan berbagai cara untuk bertahan. Menurut Ketua Tim Penggerak PKK yang juga Ketua Dekranasda Jabar, Atalia Praratya Kamil, di berbagai acara sering bertemu dengan berbagai profesi termasuk pengusaha UMKM. Dari hasil obrolan tersebut, ternyata masyarakat dari kalangan profesional pun banyak yang mulai merambah membuka bisnis makanan.

"Notaris di Jabar itu sekitar 20 persennya sekarang usaha makanan. Dokter juga sama, banyak yang dagang makanan," ujar Atalia saat menjadi salah satu narasumber di The Global Advance Research Conference on Management and Business Studies (GARCOMBS). Konferensi bertaraf internasional tersebut digelar pada Sabtu hingga Ahad (24-25/10) secara virtual.

Atalia menjelaskan, kenapa masyarakat dari berbagai kalangan berbisnis makanan karena mereka semua harus bertahan. "Misalnya dokter kan merek punya klinik harus dibayar jadi cari pendapatan lain," katanya.

Menurut Atali, pandemi yang membatasi gerak semua orang ini membuat pendapatan berkurang dan menurunkan daya beli masyarakat. Agar perekonomian bisa bergerak lagi, maka masyarakat perlu dorong dari sisi modal dan sumber daya manusia (SDM) nya.

"Saat ini, banyak pelaku usaha yang tergagap-gagap menjalankan usahanya. Makanya, para pelaku usaha harus di dorong dengan dilatih," katanya.

Program Studi Doktor Ilmu Manajemen (DIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran sendiri, kembali menggelar (GARCOMBS). Menurut Ketua Program Studi DIM FEB Unpad Sulaeman Rahman Nidar, kegiatan rutin ini merupakan forum yang mempertemukan akademisi bertaraf internasional untuk mempresentasikan kajian terbaru dan hasil penelitian di bidang manajamen dan bisnis sebagai salah satu kegiatan proram studi. 

Selain itu, kata dia, kegiatan Garcombs merupakan salah satu media dari Prodi DIM untuk bertukar informasi mengenai riset dan perkembangan studi ilmiah khususnya di bidang manajemen dan bisnis. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan benefit bagi para mahasiswa dan para dosen mengenai bagaimana solusi terbaik dalam dunia bisnis khususnya di era pandemic Covid-19," katanya.

Rektor Universitas Padjadjaran, Rina Indiastuti mengatakan, kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta yang datang dari berbagai institusi di Indonesia, Malaysia, Australia, dan di berbagai negara lainnya. Pada gelaran GARCOMBS ke-6 ini tema yang diangkat adalah “Business Recovery, Investment and Risk Management in times of Pandemic”. 

Alasan pemilihan tema ini dilatarbelakangi relevansi tema terhadap situasi saat ini. Pemilihan tema ini diharapkan mampu mengidentifikasi dampak pandemi Covid-19 terhadap lingkungan usaha yang membutuhkan pemulihan, manajemen risiko, dan investasi. 

Kegiatan tersebut menghadirkan pembicara Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington DC Poppy Rufaidah, Direktur LPDP Dwi Larso, Prof Barry Williams dari Monash University, Edwin Utama dari The Boston Consulting Group, Prof Mohd. Nazari dari Univeritas Malaya, David Wake dari Price Waterhouse Coopers, dan Prof Richard Badham dari Macquarie University pada hari pertama. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA