Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

DMI Apresiasi Kampus Pencetak Imam dan Manajer Masjid

Senin 26 Oct 2020 06:01 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

DMI Apresiasi Kampus Pencetak Imam dan Manajer Masjid. Foto: Kubah masjid berlafaskan Allah (ilustrasi)

DMI Apresiasi Kampus Pencetak Imam dan Manajer Masjid. Foto: Kubah masjid berlafaskan Allah (ilustrasi)

Foto: ANTARA
DMI menilai pemerintah perlu merespons para sarjana manajer masjid ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengapresiasi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar Rahmah Surabaya yang mencetak imam dan manajer masjid. DMI menilai pemerintah khususnya Kementerian Agama (Kemenag) perlu merespon adanya para sarjana manajer masjid ini.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DMI, Imam Addaruqutni mengatakan, adanya kampus yang mencetak imam dan manajer masjid bagus. Dulu DMI sempat menyampaikan secara lisan ke Kemenag bahwa program studi (prodi) manajemen masjid lebih luas ruang lingkupnya daripada prodi manajemen haji dan umrah.

"Karena masjid terus tumbuh, masyarakat juga terus tumbuh, dinamika juga ada, karena itu perlu sebuah sistem manajemen masjid yang mestinya itu menjadi program studi, ini untuk meningkatkan peran masjid di tengah masyarakat," kata Imam kepada Republika, Ahad (25/10).

Ia mengatakan, kalau ada prodi manajemen masjid tentu bagus bagi konsep memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid. Sekretaris Jenderal DMI ini menegaskan apa yang telah dilakukan STIDKI Ar Rahmah Surabaya yakni menggelar wisuda manajer masjid adalah langkah yang bagus.

DMI berharap sarjana lulusan kampus yang mencetak imam dan manajer masjid itu mendapat pengakuan dari pemerintah. Jumlah masjid di Indonesia banyak sekali, sementara pengelolaan masjid menyangkut pengelolaan umat. Maka pemerintah perlu meresponnya.

"Masjid menjadi pusat masyarakat dan umat, itu (lulusan manajemen masjid kalau ada) saya kira akan membantu secara positif bagi pengembangan masyarakat dan umat, termasuk hubungan umat dan negara," ujarnya.

Imam menilai bahwa hasil akhir dari lulusan prodi manajemen masjid adalah memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid. Ini akan mengarah kepada satu sistem yang lebih profesional dalam mengelola masjid. Sehingga masjid tidak dikelola apa adanya oleh orang-orang yang kurang kompeten.

Akibat masjid dikelola secara biasa-biasa saja, menurutnya, umumnya masjid sekarang hanya seperti tempat ibadah. Masjid belum menjadi alat vital bagi pengembangan kekuatan masyarakat dalam kehidupannya. Jadi kalau ada prodi manajemen masjid misalnya di fakultas dakwah akan membawa hasil yang baik.
 
"Manajemen masjid luas, ada aspek fisik, ada aspek pengelolaan keuangan, ada aspek manajemen pemakmuran dalam arti pemakmuran masyarakatnya, aspek hubungan masjid dengan masyarakat, aspek pemeliharaan (dan lain-lain)," ujarnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA