Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Jumlah Kematian Akibat Covid-19 di AS Dapat Capai 500 Ribu

Sabtu 24 Oct 2020 14:15 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Christiyaningsih

Seorang pengendara kereta bawah tanah mengenakan topeng dan bandana untuk melindungi dirinya dari Covid-19 di New York.

Seorang pengendara kereta bawah tanah mengenakan topeng dan bandana untuk melindungi dirinya dari Covid-19 di New York.

Foto: AP
Potensi kematian dapat turun hingga 130 ribu jika 95 persen orang AS pakai masker

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Jumlah kematian akibat infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) di Amerika Serikat (AS) diprediksi data mencapai 500 ribu pada Februari 2021. Para peneliti dalam sebuah pernyataan pada Jumat (23/10) mengatakan, hal ini hanya dapat dicegah jika semua orang taat melakukan tindakan pencegahan, salah satunya mengenakan masker.

Pernyataan para peneliti datang setelah 14 negara bagian di AS melaporkan rekor terbaru dalam peningkatan jumlah kasus Covid-19 harian. Cuaca musim dingin akan mendorong orang Amerika di dalam ruangan, di mana virus corona jenis baru menyebar lebih mudah, terutama di ruang terbatas dan berventilasi buruk. Hal ini didasarkan pada perkiraan terbaru oleh Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan (IHME) Universitas Washington yang dikutip secara luas.

Secara nasional, 76.195 kasus Covid-19 terbaru dilaporkan pada Kamis (22/10), menurut analisis Reuters, yang jumlah hanya sedikit dibandingkan dengan rekor tertinggi satu hari pada 16 Juli lalu, yaitu 77.299. Pada 17 September, negara lain yang pernah melaporkan jumlah kasus infeksi virus harian tertinggi adalah India yakni sebanyak 97.894.

“Saat ini kami sedang menuju lonjakan musim gugur atau musim dingin yang sangat substansial,” ujar Chris Murray, direktur IHME yang ikut dalam penelitian terbaru Covid-19 di AS dilansir Aljazirah, Sabtu (24/10).

IHME dalam pernyataan mengatakan potensi kematian dapat turun hingga 130 ribu jika 95 persen orang Amerika mengenakan masker. Sementara, Menteri Kesehatan AS Alex Azar mengatakan peningkatan kasus COVID-19 secara nacional di AS terkait tengan perilaku individu dan pertemuan di rumah juga menjadi vektor utama penyebaran penyakit.

Pennsylvania, negara bagian yang diperkirakan akan memainkan peran penting dalam pemilihan presiden 3 November, melaporkan peningkatan kasus satu hari terbesar sejak pandemi dimulai. "Kenaikan harian sekarang sebanding dengan apa yang kita lihat pada April 2020," kata Departemen Kesehatan Pennsylvania dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Jumat.

Negara bagian yang juga melaporkan rekor kenaikan satu hari adalah Alaska, Arkansas, Illinois, North Carolina, dan North Dakota. Selain itu juga ada Ohio, Oregon, Rhode Island, South Dakota, Tennessee, Utah, Wisconsin, dan Wyoming.

Pada Kamis (22/10), ada 916 kematian yang dilaporkan di AS, sehari setelah negara itu mencatat lebih dari 1.200 kematian baru untuk pertama kalinya sejak Agustus. Di hari yang sama, jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit AS naik ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Saat ini ada lebih dari 41 ribu orang di rumah sakit dengan Covid-19 di seluruh wilayah AS, yang mengartikan kenaikan 34 persen sejak awal bulan. North Dakota dilaporkan memiliki 887 kasus baru dalam dua hari terakhir. Wilayah ini menjadi negara bagian yang paling terpukul, berdasarkan kasus baru per kapita, diikuti oleh South Dakota, Montana, dan Wisconsin.

Delapan negara bagian melaporkan rekor jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit pada Jumat (23/10) yaitu Alaska, Kentucky, New Mexico, North Dakota, Ohio, Oklahoma, West Virginia dan Wyoming. Di Tennessee, rumah sakit di Nashville mengatakan mereka telah mengalami peningkatan 40 persen pada pasien yang dirawat karena Covid-19.

Jeff Pothof, seorang dokter pengobatan darurat di University of Wisconsin Health di Madison, menyatakan kekhawatiran tentang kurangnya kepatuhan terhadap langkah-langkah kesehatan masyarakat di negara bagian itu. Beberapa kelompok telah menentang pembatasan Covid-19 yang diberlakukan oleh Gubernur Tony Evers.

Wali Kota Chicago Lori E Lightfoot mengumumkan jam malam untuk bisnis yang tidak penting mulai pukul 22.00 waktu setempat mulai Jumat (23/10).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA