Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Awal Berdirinya Dinasti Mamluk, Budak Kulit Putih Turki

Sabtu 24 Oct 2020 05:30 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Muhammad Hafil

Awal Berdirinya Dinasti Mamluk, Budak Kulit Putih Turki. Foto: Ilustrasi militer Dinasti Mamluk.

Awal Berdirinya Dinasti Mamluk, Budak Kulit Putih Turki. Foto: Ilustrasi militer Dinasti Mamluk.

Foto: historytoday.com
Dinasti Mamluk menjadi salah satu dinasti berpengaruh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dinasti Mamluk merupakan salah satu dinasti yang berpengaruh terhadap peradaban Islam. Sejak paruh kedua abad ke-13 sampai awal zaman modern, para peneliti melihat saat itu sejarah sangat dipengaruhi oleh pergerakan bangsa Mamluk. Bersamaan para Mamluk berhasil meraih kekuasaan di Mesir dan Negeri Syam.

Dijelaskan dalam buku Bangkit dan Runtuhnya Dinasti Mamluk oleh Dr. Muhammad Suhail Thaqqus, para Mamluk, datang ke kawasan tersebut melalui jalur tawanan perang atau pembelian budak. Masuknya mereka ke Mesir berlangsung tanpa berhenti sejak akhir periode dinasti Abbasiyah. Seiring berjalannya waktu, mereka sangat dominan dalam bidang militer dan politik.

Kata “Mamluk” dalam bahasa Arab adalah bentuk tunggal. Sedangkan bentuk jamaknya “Mamalik”. Yang berarti seorang budak yang ditawan, namun orang tuanya tidak. Kalau budak yang orang tuanya juga merupakan budak disebut “al-qin”. Dapat diartikan, Mamluk adalah budak yang diperjualbelikan.

Dalam perjalanan selanjutnya, nama ini memiliki makna istilah khusus dalam sejarah Islam. Sebab, sejak era Khalifah Abbasiyah Al-Makmun (198-218 Hijriyah atau 813-833 Masehi), lalu era Al-Mu’tashim (218-227 Hijriyah atau 833-842 Masehi), kata ini menjadi istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok budak kulit putih.

Para khalifah, panglima besar, dan gubernur Khilafah Abbasiyah membeli mereka dari pasar-pasar budak ulit putih. Tujuannya, untuk digunakan membentuk kelompok pasukan militer khusus. Pasukan ini menjadikan mereka sebagai penopang untuk memperkuat pengaruh mereka.

Seiring berjalannya waktu, para Mamluk menjadi satu-satunya perangkat militer di beberapa negara Islam, seperti Dinasti Mamluk yang berdiri di Mesir dan Syam. Kala itu, para budak atau Mamluk tersebut dipasok dari kawasan Transoxiana. Transoxiana adalah sebutan pada masa lalu untuk sebuah wilayah di bagian Asia Tengah, yang saat ini berdekatan dengan Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, dan Kazakhstan. Transoxania dalam bahasa Arab disebut “Maa wara’a nahr” atau dalam bahasa Inggirs “across the oxus river” atau sering disebut juga dengan “mawarannahar”.

Kota seperti Samarkand, Fergana, Osyrusana, Syasy, dan Khawarizmi dikenal sebagai sumber utama pengekspor budak kulit putih asal Turki. Para Mamluk, didapat dengan tiga cara, yakni pembelian, tawanan dalam perang, dan hadiah yang diberikan oleh gubernur kawasan Transoxiana kepada khalifah. Dengan demikian, kawasan Transoxiana menjadi sumber penting pemasuk budak Turki. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA