Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Kampanye Biden Kumpulkan Dana Lebih Banyak daripada Trump

Jumat 23 Oct 2020 13:10 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Presiden Donald Trump (kiri) dan Joe Biden (kanan). Ilustrasi.

Presiden Donald Trump (kiri) dan Joe Biden (kanan). Ilustrasi.

Foto: AP
Dana kampanye Joe Biden hampir tiga kali lipat dari dana kampanye Trump

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON - Kampanye kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden mengumpulkan dana jauh lebih banyak daripada kampanye Presiden AS Donald Trump pada awal Oktober. Kondisi ini meninggalkan mantan wakil presiden itu dengan keuntungan uang tunai yang besar di bagian akhir kampanye.

Biden mengumpulkan sekitar 130 juta dolar AS (Rp 1,9 triliun) selama periode 1-14 Oktober. Angka itu sekitar tiga kali lipat dari 44 juta dolar AS (Rp 647 miliar) yang dikumpulkan oleh kampanye Trump. Data ini didapat menurut pengungkapan yang diajukan pada Kamis dengan Komisi Pemilihan Federal.

Biden menghabiskan lebih dari dua kali lipat dari yang dilakukan Trump selama periode tersebut. Iklan politik Biden sekarang jauh lebih umum di televisi Amerika.

Dengan sekitar dua pekan sebelum pemilihan 3 November, Biden memiliki 162 juta dolar AS (Rp 2,3 triliun) di bank, dibandingkan dengan sekitar 44 juta dolar AS (Rp 647miliar), uang tunai yang dipegang oleh kampanye Trump.

Trump membuntuti Biden di sebagian besar jajak pendapat publik nasional. Akan tetapi kontes tersebut terlihat lebih dekat di sejumlah negara bagian yang dapat menentukan pemenang.

Keunggulan Biden dalam perlombaan uang bukanlah jaminan kemenangan. Trump menang dalam pemilu 2016 meskipun dikalahkan oleh kandidat Demokrat Hillary Clinton.

Empat pekan sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat 3 November, lebih dari 3,8 juta warga negara telah memanfaatkan hak pilih melalui pemungutan suara lebih awal dan surat, menurut lembaga penyedia data pemilu Elections Project.

Angka itu tercatat 75 ribu suara lebih banyak dibandingkan periode yang sama pada pemilu 2016. Lonjakan jumlah suara lebih dini menggambarkan kemungkinan capaian rekor jumlah pemilih dalam pertarungan politik antara kandidat pejawat Donald Trump dan lawannya, mantan wakil presiden Joe Biden.

Kenaikan suara yang masuk lebih dini dipengaruhi oleh perluasan sistem pemungutan suara awal dan melalui layanan pos di banyak negara bagian atas pertimbangan cara aman memilih di tengah situasi pandemi Covid-19. Demikian menurut Michael McDonald dari Universitas Florida.

McDonald, yang mengelola Elections Project, juga menyebut muncul keinginan publik untuk ikut serta dalam menentukan masa depan politik Trump. "Kita tak pernah melihat orang sebanyak ini memanfaatkan hak suara jauh hari sebelum pemilu. Masyarakat memilih ketika mereka memutuskan, dan kita tahu banyak orang telah memutuskan sejak lama dan sudah mempunyai penilaian tentang Trump," kata McDonald.

Dengan angka pemilih awal yang tinggi itu, McDonald memprediksi jumlah pemilih total nantinya mencapai 150 juta orang, mewakili 65 persen dari daftar pemilih. Prediksi itu menjadi persentase tertinggi sejak 1908.

Jumlah 3,8 juta lebih suara yang sudah masuk itu sejauh ini datang dari 31 negara bagian. Jumlah itu akan bertambah cepat dalam beberapa pekan ke depan karena lebih banyak negara bagian menggelar pemungutan suara awal dan via surat.

Persentase pemilih yang memberikan hak suara lewat secara langsung pada hari pemungutan suara 3 November sudah mengalami penurunan sebelum pemilu tahun ini, menurut Komisi Bantuan Pemilu.

Angka total suara masuk lewat pemungutan suara awal atau via surat telah bertambah lebih dari dua kali lipat, dari hampir 25 juta pada 2004 menjadi 57 juta suara pada 2016.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA