Kamis 22 Oct 2020 19:49 WIB

Santri Meniru Figur Sang Kiai

Santri memiliki nilai-nilai yang melekat.

Santri Meniru Figur Sang Kiai. Ilustrasi Santri
Foto: Prayogi/Republika
Santri Meniru Figur Sang Kiai. Ilustrasi Santri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Santri sangat identik dengan pesantren. Zamakhsari Dhofier menjelaskan dalam bukunya, Tradisi Pesantren (2011), bahwa pondok berasal dari kata funduq dalam bahasa Arab, yang berarti “asrama”. Sementara, kata pesantren berasal dari akar kata santri.

Ia mengutip pendapat dari Prof. Johns yang menyebutkan kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti “guru”. Senada dengan CC Berg, Ia menyebutkan kata santri berasal dari kata shastri atau cantrik dalam bahasa sanksekerta yang berarti “orang yang mengetahui isi kitab suci” atau “orang yang selalu mengikuti guru”.

Baca Juga

Tak heran, jika santri itu mengetahui isi kitab, terlebih mampu membaca kitab. Sederhananya, santri yang menimbu ilmu di pondok pesantren sangat diharapkan mampu membaca kitab kuning kalau bahasa awamnya. Maka dari itu, keberadaanya untuk menimba ilmu harus jauh dari orang tua sehingga mereka bisa memiliki kemandirian dan rasa tanggung jawab. Hal itu pula yang mebiasakan seluruh santri saling membantu dikalangannya.

Misalnya saja cara pandang santri terhadap hak milik. Sekalipun ada pengakuan hak milik pribadi, namun pada realitanya hak itu sudah menjadi milik umum. Barang-barang seperti sandal dan ember hampir bisa dipakai oleh siapapun dan kapanpun secara bebas. Bahkan jika ada santri yang menolak meminjamkan barang tersebut akan memperoleh sanksi sosial dari temannya.

Santri selalu melakukan kegiatan dan diarahkan untuk senantiasa menjalankan aktivitas kepada hal yang lebih fungsional dan produktif. Bahkan, tak jarang kegiatan yang dilakukan santri memiliki keunikan tersendiri. Seperti kegiatan didalam asrama, masjid, bergulat dengan kitab kuning, bahkan meniru sang kiai sebagai sosok central figure dengan melaksanakan hidup zuhud, mandiri, gotong royong, memberlakukan aturan agama secara ketat serta kehadirannya ditengah masyarakat yang dapat memberikan solusi dan mengayomi.

Merujuk pada kegiatan dan pendidikan santri, ada beberapa nilai yang kompatibel sebagai ikon dari seorang santri. Nilai-nilai ini sangat melekat pada setiap individual santri, yakni solidaritas, kesetaraan, toleransi dan dialog.

Solidaritas

Seluruh santri yang tinggal di pesantren memiliki pengaruh dan sikap mental positif dalam diri santri. Santri menyadari keniscayaan sebuah perbedaan, dengan mengambil nilai persamaan sebagai pemersatu sehingga terbentuk sebuah solidaritas. Dalam islam dikenal konsep ukhuwah yang dapat disamakan dengan solidaritas. Al-Qiyam al-Ahmad Yusuf mengatakan bahwa interaksi manusia dengan sesamanya harus didasarkan pada keyakinan bahwa semua manusia adalah bersaudara dan bahwa anggota masyarakat muslim juga saling bersaudara. Quraish Shihab mengataan bahwa kesamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan lahirnya persaudaraan. Terlebih, mereka yang sudah tinggal satu kamar dan satu atap, tanpa disadari menjaga solidaritas kepada sesame akan muncul dengan sendirinya.

 

 

sumber : Suara Muhammadiyah
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement