Sunday, 21 Rabiul Akhir 1442 / 06 December 2020

Sunday, 21 Rabiul Akhir 1442 / 06 December 2020

IMF: Ekonomi Asia Pasifik Bisa Tumbuh 7 Persen

Kamis 22 Oct 2020 17:22 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fuji Pratiwi

Logo Dana Moneter Internasional (IMF) di luar kantor pusatnya di Washington, DC, AS (ilustrasi). IMF memproyeksikan ekonomi kawasan Asia Pasifik bisa tumbuh hingga tujuh persen pada tahun depan.

Logo Dana Moneter Internasional (IMF) di luar kantor pusatnya di Washington, DC, AS (ilustrasi). IMF memproyeksikan ekonomi kawasan Asia Pasifik bisa tumbuh hingga tujuh persen pada tahun depan.

Foto: EPA-EFE/JIM LO SCALZO
Asia harus mendiversifikasi ekonominya agar tak bergantung ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Asia Pasifik bersiap untuk pulih dari resesi terburuknya pada 2021. Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan, perkiraan pertumbuhan wilayah Asia Pasifik telah diturunkan lagi, kali ini dari 1,6 persen menjadi -2,2 persen untuk tahun ini.

Namun menurut IMF, Asia Pasifik akan pulih hampir tujuh persen tahun depan. China akan memainkan peran besar dalam pertumbuhan kawasan ini tahun depan, dengan data terbaru menunjukkan pemulihan berkelanjutan setelah terjadi kelesuan ekonomi akibat wabah virus corona.

Tetapi masih banyak tantangan ketika negara-negara Asia Pasifik, termasuk India, Filipina, dan Malaysia, terus berjuang melawan infeksi Covid-19. "Dampaknya akan sangat dalam," kata IMF, menunjuk pada investasi yang lebih rendah yang akan berdampak besar pada pertengahan dekade ini, dilansir BBC, Kamis (22/10).

Baca Juga

Tidak hanya dampak pandemi, ekonomi Asia Pasifik juga terpengaruh perang perdagangan AS-China dan meningkatnya permusuhan antara kedua negara adidaya ekonomi tersebut. Penjabat Direktur IMF untuk Asia dan Pasifik, Jonathan Ostry mengatakan, untuk kawasan yang sangat berorientasi ekspor, hal ini akan menjadi risiko besar di masa depan.

"Kami khawatir tentang pemisahan pusat teknologi utama, tidak hanya di China dan AS tetapi lebih luas. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya perdagangan teknologi tinggi yang mengarah ke produksi yang tidak efisien," kata Ostry.

Awal pekan ini, China merilis data kuartal Juli hingga September yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. IMF memandang China sebagai sosok positif yang langka di lautan negatif.

Kabar baiknya, IMF mengharapkan kawasan Asia Pasifik tumbuh 6,9 persen pada 2021, tetapi ini bergantung pada banyak faktor, termasuk menahan laju sebaran virus corona.

"Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan internasional saat dibutuhkan, mesin Asia dapat bekerja bersama lagi dan menggerakkan kawasan ini ke depan," kata Ostry.

Salah satu tantangannya adalah mendiversifikasi ekonomi Asia agar tidak terlalu bergantung pada ekspor, yang menurut IMF pekerjaan yang sedang berjalan.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA