Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Klaster Pesantren yang Masih Mengancam di Hari Santri

Kamis 22 Oct 2020 16:09 WIB

Red: Indira Rezkisari

Bahaya klaster pesantren akan terus mengancam bila protokol kesehatan tidak dipraktikkan ketat. Keterbatasan fasilitas dan sarana kesehatan adalah titik lemah yang dapat menjadi pintu masuk penularan virus ini di pesantren.

Bahaya klaster pesantren akan terus mengancam bila protokol kesehatan tidak dipraktikkan ketat. Keterbatasan fasilitas dan sarana kesehatan adalah titik lemah yang dapat menjadi pintu masuk penularan virus ini di pesantren.

Foto: ANTARA/Fauzan
Epidemiolog menilai santri di pesantren sebenarnya lebih berisiko terpapar.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Fuji E Permana, Fauziah Mursid, Antara

Di Hari Santri yang jatuh pada Kamis (22/10), para santri diingatkan akan potensi klaster Covid-19 dari pesantren. Kabid Pengembangan Profesi/Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane, menjelaskan santri yang tinggal di satu populasi dalam waktu yang cukup lama dan populasinya lebih padat dibandingkan masyarakat yang tinggal di rumah berisiko tinggi Covid-19.

"Kemungkinan risiko tinggi transmisi lebih besar pada santri. Tetapi kalau santri tidak banyak terhubung dengan dunia luar, itu relatif aman," katanya saat mengisi konferensi virtual BNPB bertema Santri Sehat Indonesia Kuat, Kamis (22/10).

Ia mengaku melihat beberapa pesantren menerapkan mekanisme santri sebelum masuk pondok harus tes untuk membuktikan negatif Covid-19. Masdalina namun mengatakan, transmisi kerap terjadi dari pengunjung yang keluar masuk ponpes. Ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan untuk ponpes di bidang kesehatan. Misalnya mengisi survei virus secara berkala.

"Karena itu, kami juga mohon dukungan dari para santri dan pengurus pesantren jika ada petugas pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang ingin melakukan virus survei untuk melihat kesehatan teman-teman santri," ujarnya.

Kedua, dia melanjutkan, para santri yang terinfeksi Covid-19 dan menunjukkan gejala meski ringan supaya tidak menyembunyikannya melainkan lapor pada pengurus panti. Sehingga penanganan yang bisa dilakukan lebih efektif.

Ketiga, ia meminta jika ada santri yang terinfeksi Covid-19 bisa dikarantina. Ia melihat upaya ini lebih mudah dilakukan karena pesantren adalah wilayah yang sangat efektif.

Di sisi lain, ia menilai pondok pesantren dan santri memiliki potensi yang besar untuk pembangunan kesehatan di Indonesia. Sebab, santri bisa menjadi motivator dan penggerak sehingga pesan-pesan kesehatan bisa dititipkan melalui santri dan pesantren. Ia menambahkan, banyak hal membutuhkan nasehat dan banyak sekali fatwa, baik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun dari para ulama.

"Kalau dulu melihat program keluarga berencana (KB), vaksin halal itu tidak pernah terlepas dari ulama dan pesantren," ujarnya.



Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta pondok pesantren lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap pandemi Covid-19. Hampir setahun sejak wabah Covid-19 melanda negeri ini, pesantren menjadi salah satu titik rawan penyebaran virus ini.

"Pesantren adalah entitas yang sangat rentan persebaran Covid-19. Maka kewaspadaan harus selalu ditingkatkan," kata Menag dalam teks pidatonya yang dibacakan Wakil Menteri Agama (Wamenag) KH Zainut Tauhid Sa'adi di malam puncak peringatan Hari Santri 2020, di gedung HM Rasjidi Kementerian Agama, Rabu (21/10) malam.

Menurut Menag, keterbatasan fasilitas dan sarana kesehatan adalah titik lemah yang dapat menjadi pintu masuk penularan virus ini di pesantren. Pola interaksi dan komunikasi yang intens di dalam pesantren juga menjadi kebiasaan yang tidak menguntungkan bagi pertahanan terhadap wabah ini.

“Saya yakin, jika santri dan keluarga besar pesantren mampu melampaui pandemi ini dengan baik, Insya Allah negara kita juga akan sehat dan kuat," ujarnya.

Untuk membantu pesantren meningkatkan layanan kesehatan, Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren telah mengucurkan bantuan operasional pesantren sebesar Rp 2,4 triliun. Angka ini memang belum sebanding dengan jumlah pesantren yang mencapai 28.900 di seluruh Indonesia. Namun Menag berharap bantuan ini dapat meringankan beban pesantren.

Menag mengapresiasi beberapa pesantren yang berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi Covid-19 di lingkungannya. Itu menjadi bukti nyata bahwa pesantren memiliki daya tahan di tengah berbagai keterbatasan fasilitas yang ada.

"Modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada para santri, keteladanan dan sikap kehati-hatian kiai," ujarnya.

Terkait dengan peringatan Hari Santri yang digelar di tengah pandemi ini, Menag menyampaikan penghargaan kepada para kiai dan santri pondok pesantren atas jasa-jasanya memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa ini. Jangan pernah lelah untuk berkontribusi untuk negeri ini.

"Saya percaya, selama santri pondok pesantren terus berdedikasi demi bangsa, selama itu pula negara tercinta ini akan aman dan sentosa," kata Menag.



Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta pengasuh pondok pesantren dan santri menjadi pelopor dan contoh dalam menjalankan protokol kesehatan bagi masyarakat. Ma'ruf mengajak, di Hari Santri Nasional kali ini yang mengusung tema Santri Sehat, Indonesia Kuat, untuk sama sama berdoa agar pandemi Covid segera berakhir.

Ia mengingatkan, ikhtiar juga tidak boleh ditinggalkan. "Dengan selalu memakai masker, mencuci tangan, selalu menjaga jarak dan menghindari kerumunan," katanya.

Klaster pesantren tercatat telah terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Hari ini di Medan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Sumatra Utara Arjuna Sembiring mengatakan bahwa sebanyak 44 orang di Pesantren Raudhatul Hassanah, Kecamatan Medan Tuntungan, dinyatakan positif Covid-19. Sebagian besar di antaranya telah menjalani isolasi.

"Dari 44 orang ini, 31 di antaranya diisolasi dan yang sudah pulang 13 orang (sembuh)," katanya.

Ia menjelaskan jumlah tersebut didapati setelah dilakukan tes usap (swab test) terhadap 423 orang di pesantren tersebut dalam upaya memutus mata rantai penularan Covid-19. Arjuna mengatakan sudah melakukan penyeleksian dan penyemprotan disinfektan guna mencegah terjadinya klaster baru penyebaran Covid-19 di lingkungan Pesantren Raudhatul Hassanah.

Selain itu, pihak yayasan juga telah diminta untuk mengatur pola kegiatan di dalam pesantren tersebut. "Di dalam mereka sudah harus mengisolasi, tidak boleh ada personel atau anak-anak keluar masuk, sebelum selesai skrininng kita dari Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat," katanya.

"Meski demikian aktivitas di pesantren tersebut masih berlangsung," ujar Arjuna Sembiring menambahkan.

Baca Juga

photo
IDI mengeluarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi apabila pesantren ingin dibuka. - (Pusat Data Republika )


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA