Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Setelah 70 Tahun, Wapres Bersyukur Perjuangan Santri Diakui

Kamis 22 Oct 2020 13:02 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Esthi Maharani

Wakil Presiden RI, Maruf Amin

Wakil Presiden RI, Maruf Amin

Foto: Setwapres
Hari Santri Nasional merupakan bentuk pengakuan negara terhadap peran santri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan rasa syukurnya atas peringatan Hari Santri Nasional (HSN) keenam, sejak ditetapkan Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu. Ma'ruf mengatakan, penetapan HSN ini merupakan bentuk pengakuan negara terhadap peran dan perjuangan para santri dalam melawan penjajah di masa kemerdekaan.

"Walaupun (baru diakui) sesudah 70 tahun, kita bersyukur bahwa peran santri di dalam perjuangan membela membebaskan negara melawan penjajah memperoleh pengakuan dari negara," ujar Ma'ruf dalam peringatan Hari Santri Nasional 2020 secara virtual, Kamis (22/10).

Ma'ruf mengatakan, hal ini menunjukan peran santri tidak hanya sebagai tokoh agama dan tokoh dakwah, tetapi juga tokoh perjuangan. Ia mengatakan, kondisi negara saat itu yang tengah berjuang melawan Belanda, membuat para santri ikut membela bangsanya.

Namun demikian, kata Ma'ruf, peran santri dalam tokoh perjuangan ini tidak berhenti sekarang ini. Perjuangan bisa tetap dilakukan santri dengan esensi yang berbeda.

"Dulu jihad makna kital karena memang situasi waktu itu meminta kita berjuang melawan Belanda. maka jihad sekarang ini esensinya kita lakukan tetapi yaitu dalam rangka islahan, jadi kalau dulu kitalan, sekarang tidak ada lagi perang tapi upaya perbaikan atau perubahan," ujarnya.

Dalam peringatan Hari Santri Nasional, Ma'ruf juga berpesan agar pesantren mencetak santri-santri yang paham agama dan penerus para ulama. Sebab, satu per satu ulama akan tutup usia sehingga regenerasi ilmu pengetahuan agama harus tetap berlanjut.

"Karena itu para ulama itu harus ada penggantinya, harus ada penerusnya, kalau tidak kata Rasul, kalau orang alim sudah tidak ada lagi maka orang akan menjadikan pemimpin orang yang bodoh2 yang tidak mengerti agama," ujar Ma'ruf.

Ma'ruf melanjutkan, selain mencetak generasi paham agama, pesantren juga diharapkan mencetak tokoh-tokoh dakwah. Namun, tokoh-tokoh dakwah dari kalangan santri ini diharapkan mengikuti perkembangan zaman.

"Perlu ada santri-santri dalam berdakwah menggunakan digital, digitalisasi dakwah, sebab dakwah dengan digital sasarannya akan lebih luas, jangkauan lebih luas, waktunya kapan saja, dan bisa dimana saja," kata Ma'ruf.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA