Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Studi: Pertemuan 1 Menit Bisa Tertular Covid-19

Kamis 22 Oct 2020 13:26 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Eskposure sangat singkat dan sering juga bisa tularkan covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Memiliki kontak dekat dengan Covid-19 biasanya diartikan  berada di dekat orang yang terinfeksi, setidaknya selama 15 menit berturut-turut. Namun, laporan baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan eksposur yang sangat singkat dan sering terjadi, yakni sekitar satu menit atau kurang dapat menyebarkan penyakit.

Dari laporan itu digambarkan seorang sipir di Vermont yang tertular Covid-19 setelah terpapar dengan narapidana yang terinfeksi. Meskipun dia tidak pernah berada di sekitar orang yang terinfeksi selama lebih dari satu menit dalam satu momen tertentu.

Laporan yang diterbitan di jurnal CDC Morbidity and Mortality Weekly Report, mengungkapkan penularan itu kemungkinan besar terjadi pada 28 Juli. Kala itu, enam narapidana dipindahkan ke penjara Vermont dari fasilitas di luar negara bagian.

Tidak ada narapidana yang menunjukkan gejala Covid-19, tetapi semuanya menjalani tes rutin Covid-19 saat mereka datang. Keenam narapidana menerima hasil positif keesokan harinya.

Setelah mengetahui hasil positif, petugas kembali melihat siapa yang memiliki kontak dekat dengan narapidana sehari sebelumnya. Tim meninjau rekaman video dan menemukan satu sipir yang datang dalam jarak 6 kaki atau 1,8 meter dari narapidana.

Orang itu tidak dianggap sebagai kontak dekat karena dia tidak berada di sekitar orang yang terinfeksi selama 15 menit berturut-turut. Dilansir di Live Science, Kamis (22/10), sipir tetap bekerja seperti biasa.

Baca Juga

Sampailah pada 4 Agustus, yakni satu pekan setelah narapidana yang terinfeksi tiba, sipir mengalami kehilangan bau dan rasa, pilek, batuk, sesak napas, sakit kepala, dan gejala lain dari Covid-19. Keesokan harinya, sipir tersebut dinyatakan positif mengidap Covid-19.

Sebagai hasil dari tes positif ini, petugas sekali lagi meninjau rekaman video pengawasan dari 28 Juli. Walaupun sipir tidak pernah menghabiskan waktu 15 menit langsung dekat dengan narapidana yang terinfeksi, dia sering bertemu dengan mereka.

Secara khusus selama shift 8 jamnya, sipir itu melakukan 22 pertemuan singkat. Setiap pertemuan singkat menghabiskan antara 10 dan 60 detik dengan narapidana. Sehingga total 17 menit paparan kumulatif.

Sipir mengenakan masker kain dan kacamata pengaman selama pertemuannya. Tetapi, narapidana tidak selalu mengenakan masker. Sipir tidak memiliki kontak lain yang diketahui dengan Covid-19 dan tidak melakukan perjalanan ke luar Vermont dalam 2 pekan sebelum terinfeksi.

Selain itu, tingkat infeksi Covid-19 baru di Vermont rendah saat itu, yang berarti sipir tidak mungkin tertular penyakit melalui penyebaran di sebuah komunitas.

“Setidaknya satu dari narapidana asimtomatik menularkan SARS-CoV-2 atau virus yang menyebabkan Covid-19 selama pertemuan singkat ini," kata penulis laporan.

Penemuan ini memiliki keterlibatan dalam pelacakan kontak, yang biasanya mendefinisikan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi berada dalam jarak 6 kaki selama 15 menit.

Faktor tambahan juga dapat dipertimbangkan, seperti seberapa dekat individu dengan yang lain, apakah orang yang terinfeksi melakukan sesuatu seperti bernyanyi atau berolahraga, dan apakah lingkungan penuh sesak atau memiliki ventilasi yang memadai.

Dalam kasus saat ini, meskipun penilaian awal tidak menunjukkan sipir memiliki eksposur kontak dekat, berdasarkan dari tinjauan rinci rekaman video yang mengidentifikasi durasi keterlibatan eksposur melebihi 15 menit.

"Petugas kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan keterlibatan risiko penularan dari waktu paparan kumulatif dalam pengaturan seperti itu," ujar penulis laporan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA