Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Cathay Pacific PHK 8.500 dan Tutup Penerbangan Regional

Kamis 22 Oct 2020 08:33 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Maskapai penerbangan Cathay Pacific dan Cathay Dragon. Maskapai penerbangan Hong Kong Cathay Pacific Airways pada Rabu (21/10) mengatakan akan memangkas 8.500 pekerjaan dan menutup maskapai regional akibat penurunan perjalanan udara karena pandemi.

Maskapai penerbangan Cathay Pacific dan Cathay Dragon. Maskapai penerbangan Hong Kong Cathay Pacific Airways pada Rabu (21/10) mengatakan akan memangkas 8.500 pekerjaan dan menutup maskapai regional akibat penurunan perjalanan udara karena pandemi.

Foto: Dok. Cathay Pacific dan Cathay Dragon.
Pemotongan itu sekitar 24 persen dari tenaga kerja perusahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Maskapai penerbangan Hong Kong Cathay Pacific Airways pada Rabu (21/10) mengatakan akan memangkas 8.500 pekerjaan dan menutup maskapai regional akibat penurunan perjalanan udara karena pandemi. Sekitar 5.300 karyawan yang berbasis di Hong Kong dan 600 lainnya di tempat lain kemungkinan akan kehilangan pekerjaan mereka, dan 2.600 posisi yang tidak terisi akan dipecat. 

Pemotongan itu sekitar 24 persen dari tenaga kerja perusahaan, kata Cathay Pacific dalam sebuah pernyataan, dilansir dari AP News, Kamis (22/10). “Pandemi global terus berdampak buruk pada penerbangan dan kebenaran yang sulit adalah kita harus secara fundamental merestrukturisasi grup untuk bertahan hidup,” kata CEO Cathay Pacific Augustus Tang dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

“Kami harus melakukan ini untuk melindungi sebanyak mungkin pekerjaan, dan memenuhi tanggung jawab kami terhadap pusat penerbangan Hong Kong dan pelanggan kami,” kata Tang menambahkan.

Perusahaan juga diketahui akan menutup Cathay Dragon, unit maskapai regionalnya, dengan operasi dihentikan mulai Rabu, kemarin. Maskapai ini akan meminta persetujuan peraturan untuk sebagian besar rute yang akan dioperasikan oleh Cathay Pacific dan anak perusahaan maskapai hematnya, HK Express.

Restrukturisasi bertujuan untuk mengurangi 'pembakaran tunai' Cathay Pacific. Penghematan itu bernilai sekitar 500 juta dolar Hong Kong (64,5 juta dolar AS) sebulan, sehingga bisa berhemat dari semula sekitar 1,5 miliar dolar Hong Kong (193,5 juta dolar AS) menjadi 2 miliar dolar Hong Kong (258 juta dolar AS) sebulan.

Pemotongan gaji eksekutif akan berlanjut sepanjang 2021 dan tidak akan ada kenaikan gaji untuk tahun 2021 atau bonus untuk tahun ini untuk semua karyawan Hong Kong, kata Cathay Pacific. Staf lapangan akan ditawari rencana cuti sukarela pada paruh pertama tahun depan.

Dalam konferensi pers, ketua Cathay Pacific Airways Patrick Healy memperkirakan bahwa tingkat penumpang akan kembali ke tingkat seperti sebelum pandemi pada tahun 2024.

“Masa depan masih sangat tidak pasti. Krisis ini lebih dalam dan jalan menuju pemulihan lebih lambat dan lebih tambal dari yang diperkirakan orang beberapa bulan lalu," katanya.

Healy mengatakan Cathay Pacific lebih terpengaruh daripada maskapai lain karena maskapai itu 100 persen bergantung pada perjalanan lintas batas. Yang mana, sebagian besar telah berhenti karena penumpang tetap waspada terbang di tengah pembatasan perjalanan. Destinasi utama seperti China daratan dan negara lain seperti Singapura dan Thailand pun telah menutup sementara perbatasannya bagi pengunjung.

Cathay Pacific akan beroperasi dengan kapasitas kurang dari 25 persen untuk paruh pertama 2021, dan di bawah 50 persen dari kapasitas untuk sisa tahun ini secara keseluruhan, perkiraan Healy. "Itu mungkin meningkat pada paruh kedua tahun ini karena kendala perjalanan mudah-mudahan akan berkurang," katanya.

Pada bulan Juni, Cathay Pacific pun telah mengumpulkan 39 miliar dolar Hong Kong (5 miliar dolar AS) dalam rencana rekapitalisasi yang memberi pemerintah kota saham sekitar 6 persen di maskapai tersebut.

Wakil ketua dari Serikat Pramugari Cathay Pacific Airways, Amber Suen, mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa serikat tersebut "sangat kecewa" dengan keputusan perusahaan, dan mengatakan ada pihak lain yang khawatir bahwa mungkin ada pengulangan di masa depan.

sumber : AP News
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA