Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Sejarah Hari Ini: Pengumuman Krisis Rudal Kuba Kejutkan AS

Kamis 22 Oct 2020 07:37 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Pada 22 Oktober 1962 Presiden AS umumkan pesawat intai temukan pangkalan rudal Soviet di Kuba. Ilustrasi.

Pada 22 Oktober 1962 Presiden AS umumkan pesawat intai temukan pangkalan rudal Soviet di Kuba. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/HANDOUT HANDOUT EDITORIAL USE ONLY/
Pada 22 Oktober 1962 Presiden AS umumkan pesawat intai temukan pangkalan rudal

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Pada 22 Oktober 1962, Presiden Amerika Serikat (AS) John F Kennedy mengumumkan pesawat intai AS American Spy Planes telah menemukan pangkalan rudal Soviet di Kuba.  Ini dikenal dalam sejarah sebagai "Krisis Rudal Kuba" dan membawa dunia ke ambang perang nuklir.

Dilansir The People History, dalam pidatonya kepada rakyat Amerika di televisi Presiden Kennedy mengatakan jika pangkalan rudal itu selesai maka akan dapat meluncurkan rudal yang mampu menyerang sejumlah kota AS.

Presiden memberi tahu rakyat Amerika bahwa pemerintah tidak dapat membiarkan pangkalan rudal ini diselesaikan. AS akan melakukan tindakan apa pun yang diperlukan termasuk tindakan militer untuk melindungi bangsa. Dia mengatakan tahap pertama adalah menempatkan karantina angkatan laut di perairan sekitar Kuba.

Pasukan AS kemudian pergi ke DEFCON 2 sebagai persiapan untuk perang skala penuh. Laman History mencatat apa yang dikenal sebagai Krisis Rudal Kuba sebenarnya dimulai pada 14 Oktober 1962.

Hari itu adalah hari ketika personel intelijen AS menganalisis data pesawat intai U-2 yang menemukan Soviet sedang membangun situs rudal jarak menengah di Kuba. Keesokan harinya, Presiden Kennedy diam-diam mengadakan pertemuan darurat dengan penasihat senior militer, politik, dan diplomatiknya untuk membahas perkembangan yang tidak menyenangkan. 

Selama enam hari berikutnya usai 22 Oktober, krisis meningkat ke titik puncaknya ketika dunia berada di ambang perang nuklir antara kedua negara adidaya tersebut. Amerika menyadari bahwa pembangunan peluncur rudal terus berlanjut dan memutuskan bahwa invasi skala penuh ke Kuba akan diperlukan untuk menghentikan penyelesaian pangkalan rudal.

Soviet kemudian mengirimkan proposal semua pangkalan rudal di Kuba akan dibongkar dengan imbalan Amerika Serikat tidak menginvasi Kuba dan membongkar pangkalan rudal Amerika di Turki.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA