Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Keutamaan Memelihara Sholat Ashar

Kamis 22 Oct 2020 15:01 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah

Keutamaan Memelihara Sholat Ashar

Keutamaan Memelihara Sholat Ashar

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Sejumlah hadits menjelaskan keutamaan sholat ashar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sholat ashar termasuk sholat wajib yang apabila meninggalkannya, akan mendapat dosa. Ternyata sholat ashar memiliki keutamaan tersendiri yang dijelaskan pada sejumlah hadits yang tercatat dalam buku Shahih Fadhail A’mal oleh Syaikh Ali bin Muhammad Al-Maghribi.

Muslim Rahimahullah no. 627 (205), meriwayatkan: Dari Ali radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah SAW sewaktu perang Ahzab, bersabda: “Mereka (orang-orang kafir itu) telah membuat kami lalai terhadap sholat wustha (sholat ashar). Semoga Allah memenuhi rumah dan kuburan mereka dengan api.” Kemudian beliau melakukan sholat ashar pada waktu antara dua isya, yakni antara sholat maghrib dan isya. Shahih.

HR  Al-Bukhari No. 2931 beserta athraf dengan tanpa menyebut sholat ashar. Telah ditakhrij oleh Ahmad (1/404 dan 456) dan lainnya seperti dalam tahqiq penulis terhadap ath-Thayalisi no. 94, Abu Ya’la (1/356), dia menyebutkan yang dimaksud sholat wustha adalah sholat ashar, seperti dalam Muslim no. 628 dan ath-Thayalisi no. 366 dengan tahqiq penulis, dan saya telah mentakhrijnya di sana. Maka, pendapat yang rajih adalah dia, yakni sholat wustha adalah sholat ashar. Wallahu’alam.

Baca Juga

Hadis lain, Muslim Rahimahullah no. 830, meriwayatkan: Dari Abu Bashrah Al-Ghifari, dia berkata, Rasulullah SAW pernah sholat ashar bersama kami di Al-Mukhammash, lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya sholat ini telah dibebankan kepada kaum sebelum kalian, tapi mereka menyiakannya. (Karena itu) barang siapa yang memeliharanya, maka untuknya pahala dua kali (lipat), dan tidak ada sholat lagi setelahnya sampai muncul syahid.” (syahid di sini artinya bintang). Shahih.  

HR An-Nasa’I (1/259-260), Ahmad (6/397), Al-Baihaqi (1/448), Abu Uwanah (1/360) dan Ath-Thahaw dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar (1/153).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA