Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Armenia tak Menyerah, PM Serukan Warga Jadi Sukarelawan

Kamis 22 Oct 2020 05:29 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Teguh Firmansyah

Pemandangan kendaraan hancur setelah penembakan oleh artileri Azerbaijan dekat rumah sakit, selama konflik militer di kota garis depan Martakert, wilayah separatis Nagorno-Karabakh, Senin, 19 Oktober 2020. Penembakan baru telah dilaporkan dalam pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan, melanggar gencatan senjata akhir pekan dalam konflik atas wilayah separatis Nagorno-Karabakh. Pertempuran berkecamuk selama lebih dari tiga minggu.

Pemandangan kendaraan hancur setelah penembakan oleh artileri Azerbaijan dekat rumah sakit, selama konflik militer di kota garis depan Martakert, wilayah separatis Nagorno-Karabakh, Senin, 19 Oktober 2020. Penembakan baru telah dilaporkan dalam pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan, melanggar gencatan senjata akhir pekan dalam konflik atas wilayah separatis Nagorno-Karabakh. Pertempuran berkecamuk selama lebih dari tiga minggu.

Foto: AP/STR
PM Armenia minta warga pertahankan wilayah sampai ada solusi diplomatik dengan Azeri.

REPUBLIKA.CO.ID,  YEREVAN -- Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinian menampik solusi diplomatik untuk krisis Nagorno-Karabakh. Menurutnya, langkah diplomasi dan negosiasi kedua pihak terkait wilayah itu, tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

"Segala sesuatu yang secara diplomatis dapat diterima oleh pihak Armenia ... tidak dapat diterima lagi oleh Azerbaijan," kata Pashinian dalam pesan video di Facebook mengutip Daily Sabah Rabu (21/10).

Tak hanya itu, ia juga meminta warganya untuk menjadi sukarelawan di wilayah Karabakh. Warga dan seluruh elemen di Armenia harus terus berjuang mempertahankan wilayahnya, hingga ada solusi diplomatik yang bisa dicapai kedua pihak.

Ucapan itu ia ungkapkan setelah Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengadakan dua pertemuan terpisah dengan rekan-rekannya dari Armenia dan Azerbaijan di Moskow. Pertemuan itu dilakukan untuk membahas implementasi gencatan senjata di wilayah Nagorno-Karabakh.

Dalam kesempatan itu, pihak Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut, selama pembicaraan, ada pembahasan yang mengerucut pada masalah mendesak menyoal implementasi kesepakatan. "Selain itu, pembahasan gencatan senjata di zona konflik juga akan menuju ke arah penyelesaian berkelanjutan,’’ kata kementerian itu setelah pertemuan terjadi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA