Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Kadin: Perekonomian Indonesia Masih Alami Tekanan Covid-19

Rabu 21 Oct 2020 18:25 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Rosan P Roeslani.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Rosan P Roeslani.

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Perekonomian Indonesia pada akhir tahun ini diprediksi akan mengalami kontraksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menyatakan, saat ini Indonesia masih mengalami tekanan akibat Covid-19. Baik dari sisi kesehatan maupun perekonomian.

"Tetapi itu tentunya tidak akan mengurangi semangat kita. Sebab kita mengetahui secara pasti, insya Allah covid-19 ini suatu saat akan berakhir dan kita harapkan pada tahun mendatang yang mana insya Allah vaksin juga sudah ditemukan, akan mengurangi faktor dari ketidakpastian akibat covid-19," ujar Rosan dalam Outlook 2021: The Year of Opportunity pada Rabu (21/10).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kata dia, perekonomian Indonesia pada akhir tahun ini akan mengalami kontraksi antara minus 0,6 persen sampai minus 1,7 persen. Itu dinilai akan berdampak terhadap banyak hal.

Di antaranya peningkatan kemiskinan dan peningkatan pengangguran. "Kita ketahui bersama pengangguran terbuka 7 juta dan diperkirakan akan menambah sampai 5 juta sampi 6 juta akibat Covid-19 ini sehingga total menjadi 13 juta," tuturnya.

Ia menambahkan, angka perdagangan nasional juga mengalami kontraksi. "Kita lihat pula pada industri, rata-rata mengalami  penurunan atau kontraksi dari 15 faktor industri semua mengalami kontraksi. Walaupun di bidang yang paling besar seperti pertanian masih mengalami pertumbuhan relatif masih sangat kecil," ujar dia.

Saat ini, sambungnya, tekanan terhadap perekonomian secara bulan ke bulan atau month to month (mtm) sudah mulai membaik. Walau secara tahun ke tahun (year on year/yoy) masih mengalami penurunan signifikan.

"Kita lihat dalam 2 sampai 3 bulan ini PMI sudah meningkat di atas 50 persen. Walaupun sekarang turun sedikit lagi, penjualan mobil, motor, consume confident, aktivtas bisnis indeks semuanya sudah meningkat," jelas Rosan.

Maka dirinya berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal II menjadi yang terendah yakni minus 5,32 persen. "Kita harapkan walaupun masih berkontraksi, setidaknya menjadi minus 3 sampai 3 persen. Kita harap kuartal IV mengalami pertumbuhan yang lebih baik lagi," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA