Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Sumber Keracunan Massal di Tasikmalaya Masih Belum Diketahui

Rabu 21 Oct 2020 17:35 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Esthi Maharani

Sejumlah pasien korban keracunan massal di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, mulai diperbolehkan pulang, Ahad (11/10)

Sejumlah pasien korban keracunan massal di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, mulai diperbolehkan pulang, Ahad (11/10)

Foto: istimewa
Belum diketahui penyebab utama keracunan massal yang terjadi di Kecamatan Mangkubumi

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya belum juga dapat menentukan secara pasti penyebab utama keracunan massal yang terjadi di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, setelah dua pekan peristiwa itu terjadi. Alasannya, hasil uji laboratorium sampel makanan belum juga diterima dari Labkesda Provinsi Jawa Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih belum menerima hasil uji laboratorium dari Labkesda. Menurut dia, pihak Labkesda beralasan masih membutuhkan waktu untuk pengembangbiakan kultur kuman.

"Tapi hari ini belum cek hasilnya sudah dikirim atau belum," kata dia saat dihubungi Republika, Rabu (21/10).

Ia menjelaskan, untuk dapat memastikan sumber keracunan massal yang terjadi, sampel makanan yang dikirimkan harus dibuatkan menjadi kultur kuman. Sementara untuk mendapatkan kultur yang sempurna itu harus dibuat beberapa sampel.

"Itu namanya kultur biakan kuman. Biakan kuman itu tak bisa cepat, harus menunggu kuman bertumbuh. Jadi butuh waktu untuk biakan kuman, karena pemeriksaan laboratorium itu kompleks," kata dia.

Setelah didapatkan kultur kuman yang sempurna, pemeriksaan laboratorium juga harus dilakukan secara berulang kali. Hal itu dilakukan sebagai upaya konfirmasi ulang.

"Agar pemeriksaan tidak salah. Proses itulah yang memakan banyak waktu," kata dia.

Kendati demikian, Uus mengatakan, yang terpenting, hingga saat ini sudah tak ada korban dirawat akibat keracunan massal tersebut. Ia menambahkan, batas pemantauan kejadian luar biasa (KLB) juga telah dilewati. Artinya, penetapan status KLB sudah bisa diakhiri.

Namun, ia menegaskan, pihaknya akan terus melakukan tindak lanjut jika hasil laboratorium penyebab pasti keracunan massal sudah diketahui. "Kita lihat dulu kepastiannya untuk tindakan selanjutnya. Yang terpenting edukasi dari inspeksi kesehatan lingkungan dan penyajian makanan sudah disampaikan dari tim kami," kata dia.

Sementara ini, menurut Uus, Dinas Kesehatan sudah melakukan inspeksi lingkungan di lokasi kejadian keracunan massal. Dari hasil inspeksi itu ditemukan adanya bakteri ecoli di sumber air yang melebihi ambang batas.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pembersihan sumber air dari kuman dengan obat. Hal itu dilakukansejak awal kasus kecarunan ditemukan.

"Supaya tidak terjadi wabah diare, muntaber, atau lainnya," kata dia.

Ihwal kasus tindak lanjut perkara keracunan massal itu, Uus berharap kasus itu tak sampai berujung ke ranah hukum. Sebab, menurut dia, tak ada unsur kesengajaan dalam kasus itu. Apalagi, lanjut dia, kasus keracunan massal tersebut tak sampai menimbulkan korban jiwa.

"Para korban sudah dirangani dengan baik, dan pembiayaan ditanggung pemerintah. Saya kira tak ada masalah lagi, apalagi untuk pidana," kata dia.

Keracunan massal yang terjadi di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, berawal dari acara ulang tahun anak salah satu warga pada Rabu (7/10). Dari acara itu, warga dibagikan makanan oleh warga yang menggelar acara. Pada malam harinya, warga yang mengonsumsi makanan itu mulai mengalami gejala keracunan. Baru pada Kamis (8/10), korban mulai berdatangan ke sejumlah puskesmas.

Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat, total korban akibat keracunan massal itu berjumlah 215 orang. Namun, saat ini seluruh korban telah tertangani tanpa adanya korban meninggal dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA