Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Umat Islam Papua Rajin Rajut Jembatan Komunikasi

Rabu 21 Oct 2020 06:16 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

  Umat Islam Papua Rajin Rajut Jembatan Komunikasi. Foto: Umat muslim meninggalkan Masjid Agung Babussalam seusai mengikuti shalat Idul Adha 1441 H di Timika, Papua, Jumat (31/7/2020).

Umat Islam Papua Rajin Rajut Jembatan Komunikasi. Foto: Umat muslim meninggalkan Masjid Agung Babussalam seusai mengikuti shalat Idul Adha 1441 H di Timika, Papua, Jumat (31/7/2020).

Foto: SEVIANTO PAKIDING/ANTARA
Umat Islam Papua selalu menjadi motor untuk membangun jembatan komunikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umat Islam rajin sekali membangun jembatan-jembatan komunikasi dan merajut silaturrahim di Papua. Hal ini disampaikan Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jayapura, Ade Yamin saat menjadi narasumber Muktamar Pemikiran Santri Nusantara seri ke-5 bertema 'Santri Bicara Papua, Menjadi Papua, Menjadi Indonesia' yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa (20/10).

Ade mengatakan, seluruh umat Islam di Papua mendukung penuh apapun kebijakan negara. Meskipun dengan cara itu mereka harus menjadi warga kelas dua di negaranya sendiri. Di Papua ini umat Islam bisa disebut sebagai warga kelas dua.

"Umat Islam rajin sekali membangun jembatan-jembatan komunikasi dan merajut silaturrahim agar tercipta harmoni di dalam masyarakat," kata Ade saat Muktamar Pemikiran Santri Nusantara seri ke-5, Selasa (20/10).

Ia menjelaskan, umat Islam telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Meski mereka sudah jadi korban dan mengorbankan dirinya untuk bangsa serta negara ini. 

Meski demikian, menurutnya, umat Islam selalu menjadi motor untuk membangun jembatan komunikasi dan merajut tali silaturrahim dengan seluruh komponen masyarakat seperti yang dilakukan Tony Wanggae.

Ia juga menerangkan, supaya bisa menjadi Papua menjadi Indonesia, ada dua hal yang harus dilakukan. Yakni integrasi dan apresiasi seluruh masyarakat Papua ke dalam program negara atau pemerintah.

"Kita lihat itu sekarang Kapolda orang asli Papua, Pangdam orang asli Papua, gubernur orang asli Papua, orang yang dikasih apresiasi orang-orang besar, bagaimana dengan orang-orang kecil di akar rumput?," ujarnya.

Ade mengatakan, bagaimana mengapresiasi orang-orang kecil di Papua, itu yang belum terjadi. Padahal rata-rata yang bergolak adalah orang-orang di akar rumput. Yakni orang-orang yang tidak diberi kesempatan dan tidak diapresiasi serta gagal diintegrasikan dalam negara yang besar.

Ia menjelaskan, solusi yang bisa dilakukan agar menjadi Papua menjadi Indonesia hanya tiga cara yaitu berpihak, memahami dan melibatkan. "Dalam kacamata saya program Kita Cinta Papua yang digulirkan Menteri Agama itu baru menjawab satu, (yaitu) berpihak, (tapi) belum memahami dan belum melibatkan," jelasnya.

Ade mengatakan, program Kita Cinta Papua adalah program dari orang-orang pintar di Jakarta untuk orang kecil yang ada di pinggir. Karena ini program pemerintah, maka suka atau tidak suka harus ikut. Tapi pertanyaan pentingnya benarkah itu yang dibutuhkan Papua?

Muktamar Pemikiran Santri Nusantara seri ke-5 ini digelar sebagai bagian dari rangkaian acara peringatan Hari Santri 2020 bertema 'Santri Sehat Indonesia Kuat'. Menag membuka muktamar ini. Sejumlah narasumber yang diundang pada Muktamar seri ke-5 ini di antaranya Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardhani, Anggota Ombudsman Ahmad Suaedy, Ketua PWNU Papua dan Anggota Majelis Rakyat Papua Tony Wanggae, dan Dosen IAIN Jayapura Ade Yamin.






BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA