Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Pengunjuk Rasa Thailand Gunakan Bahasa Isyarat Baru

Selasa 20 Oct 2020 19:39 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Demonstrasi di Bangkok, Thailand

Demonstrasi di Bangkok, Thailand

Foto: REUTERS/Jorge Silva
Pengunjuk rasa Thailand memakai bahasa isyarat untuk komunikasi sesama

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Pengunjuk rasa Thailand yang menuntut perdana menteri Prayuth Chan-ocha mundur belajar bahasa isyarat baru. Tangan menunjuk ke atas artinya butuh payung, tangan diangkat ke atas kepala artinya butuh helm, dan jaring telunjuk disilang artinya pasokan cukup.

Bahasa itu berkembang dalam hitungan hari di antara warga yang turun ke jalan. Tujuannya untuk mengkoordinasikan massa yang terus bertambah walaupun artinya mengabaikan larang pemerintah dan sudah banyak pemimpin unjuk rasa yang ditangkap.

"Semua orang di sini saling membantu, pada awalnya kami harus mencari tahu apa yang orang lain katakan, tapi dengan gestur, cukup mudah untuk menebak," kata salah satu pengunjuk rasa Riam yang berusia 19 tahun, Selasa (20/10).

Baca Juga

Sejumlah kata yang digunakan pengunjuk rasa Thailand mirip dengan yang dipakai demonstran Hong Kong. Sebagian lainnya mereka ciptakan sendiri dan kini semakin sering digunakan.

Selama tiga bulan terakhir Thailand didera gelombang unjuk rasa menuntut Prayuth, mantan kepala junta turun dari jabatannya. Pengunjuk rasa juga mendesak wewenang Raja Maha Vajiralongkorn dibatasi.

Bahasa isyarat unjuk rasa itu mendapatkan momentumnya pekan lalu setelah pemerintah menindak keras pengunjuk rasa dengan menangkap sejumlah pemimpin unjuk rasa yang terkenal menggunakan water canon untuk pertama kalinya.  

Langkah pemerintah membuat pengunjuk rasa harus dapat melindungi diri mereka dengan cepat. Memindahkan pasokan dari satu titik ke titik lain sehingga semua orang dapat bersiap menghadapi tekanan.

Juru bicara polisi Thailand Kissana Phathanacharoen mengatakan situasi unjuk rasa 'sangat dinamis'. Ia meminta masyarakat memahami kehadiran mereka di sana ilegal.

Sejak Jumat (16/10) lalu polisi tidak membubarkan unjuk rasa. Tapi demonstran tidak mengambil kesempatan itu.

Bahasa baru mereka memang baru terbentuk dalam waktu satu pekan. Ketika pengunjuk rasa mengajarkan satu sama lain bagaimana caranya bergerak bersama-sama. Pesan berantai disampaikan dari satu ke satu orang lainnya melalui bisikan.  

"Semua orang berpendidikan dan belajar bagaimana bertahan tapi terpimpin, kami harus berkomunikasi sehingga unjuk rasa dapat berlangsung dengan tertib," kata salah satu pengunjuk rasa Tangmae yang berusia 20 tahun. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA