Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Tata Udara Buruk, Bangsal ICU Dianjurkan tak Gunakan AC

Rabu 21 Oct 2020 03:10 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Ruang unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta.

Ruang unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta.

Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO
Penggunaan AC di ICU akan membuat petugas kesehatan berisiko tertular Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI – Sebuah studi dari India, negara dengan lebih dari 7,5 juta kasus Covid-19, menyarankan agar rumah sakit mendesain ulang unit perawatan intensif (ICU) agar ruangan itu tidak memakai AC. Menurut studi itu, penggunaan AC di ICU telah menempatkan petugas kesehatan pada risiko penularan Covid-19.

Para peneliti mengatakan, udara yang terkontaminasi virus corona di sekitar pasien di ICU akan beredar dan seiring waktu viral load-nya akan meningkat, sehingga siapa pun yang berada di ruangan itu berisiko lebih tinggi untuk terpapar. Menurut catatan Reuters, lebih dari 500 dokter di India telah meninggal akibat Covid-19.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Institut Sains India di Bengaluru berpendapat bahwa menggunakan exhaust fan yang menyedot udara ke luar lebih efisien membatasi penyebaran virus di bangsal ICU.

"Dalam hal ini, perubahan mendasar yang kami sarankan untuk ICU yang merawat Covid-19 atau pasien menular lainnya adalah harus ada aliran udara yang cepat melalui udara dalam satu arah," tulis para peneliti seperti dikutip dari Fox News, Selasa (20/10).

Peneliti juga merekomendasikan agar udara yang keluar-masuk itu bisa melewati tabung yang berisikan beberapa larutan sabun atau natrium hipoklorit. Itu penting guna memastikan virus apapun di udara akan hancur atau didesinfeksi pada saat udara keluar-masuk.

"Kami mengimbau agar para teknisi bisa membuat desain filter udara yang inovatif dan efektif berbasis sabun untuk menangani udara yang terinfeksi Covid-19 di bangsal ICU," kata peneliti.

Para penulis mengatakan bahwa sabun terbukti cukup ampuh untuk mengatasi virus H1N1 dan Ebola. Mereka juga mencatat bahwa menjauhkan dokter senior yang berusia di atas 60 tahun dari pasien Covid-19 akan membantu menjaga kesehatan tenaga medis.

“Pandemi ini sekali lagi membuat kami menyadari pentingnya petugas kesehatan sebagai sumber daya yang paling berharga. Karenanya penting untuk menyediakan alat pelindung diri (APD) lengkap dan memastikan lingkungan yang aman dan terdesinfeksi,” kata peneliti.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA