Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Penelitian Cambridge: Anak Muda Kecewa dengan Demokrasi

Selasa 20 Oct 2020 07:47 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

 Ribuan massa pro-demokrasi melakukan aksi unjuk rasa di Bangkok, Ahad (18/10).

Ribuan massa pro-demokrasi melakukan aksi unjuk rasa di Bangkok, Ahad (18/10).

Foto: AP/Gemunu Amarasinghe
Alasan anak muda kecewa demokrasi adalah parahnya tingkat ketimpangan kekayaan

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Penelitian University of Cambridge menemukan anak muda di Eropa, Amerika Utara, Afrika, dan Australia kurang puas dan kecewa dengan demokrasi bila dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Millennial yang lahir antara tahun 1981 sampai 1996 lebih kecewa terhadap demokrasi dibandingkan generasi sebelumnya seperti Generasi X yang lahir tahun 1965 hingga 1981, atau Baby Boomers yang lahir 1944 dan 1964 dan Generasi antara Perang Dunia I dan II yang lahir 1918 hingga 1943.  

"Di seluruh dunia, generasi-generasi yang lebih muda tidak hanya lebih kecewa dengan performa demokrasi dibandingkan yang lebih tua, tapi juga lebih tidak puas dibandingkan generasi sebelumnya di tahapan umur yang sama," kata penelitian Cambridge, Selasa (20/10).

Baca Juga

Gambaran itu buruk di Amerika Serikat, Brasil, Meksiko, Afrika Selatan, Prancis dan Inggris. Tapi ketidakpuasan meningkat di Jerman, Korea Selatan, dan banyak bekas negara komunis Eropa Timur dan Tengah.

Dalam laporan penelitian itu disebutkan alasan utama kekecewaan anak muda terhadap demokrasi adalah parahnya tingkat ketimpangan kekayaan dan pendapatan. Penelitian itu mencantumkan angka ketimpangan kekayaan antargenerasi.

Saat ini Milineal yang mencakup seperempat total populasi di AS tapi hanya memiliki 3 persen total kekayaan negara itu. Sementara dulu, Baby Boombers memiliki 21 persen kekayaan Negeri Paman Sam di umur yang sama. Cambridge Centre for the Future of Democracy meneliti data lebih 4,8 juta responden yang dikumpulkan dari 160 negara antara tahun 1973 hingga 2020. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA