Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Sholat Tahajud untuk Asah Komunikasi dengan Allah

Selasa 20 Oct 2020 05:05 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Esthi Maharani

Sholat Tahajud

Sholat Tahajud

Foto: Republika.co.id
Sholat tahajud bangun spiritual kecerdasan dan kemampuan berkomunikasi dengan Allah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sholat tahajud memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia. Para ilmuwan berpendapat, orang yang benar-benar sehat hanya membutuhkan tiga jam untuk tidur. Oleh karena itu, waktu disepertiga malam bisa dimanfaatkan untuk melakukan sholat tahajud.

"Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sedikit, (yaitu) separuh atau kurang sedikit. Atau tambahkan padanya - dan bacalah Alquran dengan nada yang lambat, terukur, dan ritmis,” (Surat Al-Muzzammil ayat 2-4).

Ilmuan Fadhlalla Haeri mengatakan ayat tersebut menyuruh kita mengambil apa yang dibutuhkan untuk tidur dan jika saat bangun dari tidur ada keseimbangan di dalamnya seperti dikutip dari About Islam pada Senin (19/10)

"Sesungguhnya bangun di malam hari lebih kuat pengaruhnya, dan ucapannya lebih lurus," (Surat Al-Muzzammil ayat 6).

Haeri juga mengatakan bahwa 'Nashiatul-layl' adalah kegelapan maksimum di mana seseorang tidur nyenyak, energinya rendah, dan bidang refleksi jernih dan kosong. Bagian malam ini memiliki hasil terbaik bagi tubuh manusia.

Bagian tubuh manusia yang berfungsi dalam kapasitas ini adalah kelenjar pineal. Dalam tradisi India, kelenjar pineal adalah titik energi ketujuh atau Cakra Mahkota. Pituitari dan kelenjar pineal bekerja bersama-sama melalui relaksasi dan meditasi yang dipraktikkan Rasulullah.

Dalam tradisi India, chakra ketujuh membangun spiritual kecerdasan dan dikaitkan dengan kemampuan pribadi untuk berkomunikasi dengan Allah Swt. Kemudian pemenuhan spiritual dianggap mampu membuat seseorang menyelesaikan emosi negatif mereka.

Saat matahari terbenam, kelenjar pineal berpindah gigi dan menghasilkan hormon utama melatonin dalam jumlah yang lebih besar. Melatonin inilah yang menentukan siklus pola tidur dan paling banyak diproduksi di malam hari dan mencapai puncaknya pukul 2 pagi hingga 3 pagi (waktu sholat tahajud).

Siklus ini mengatur jam biologis, menghidupkan sistem kekebalan dan menghambat promotor tumor seperti estrogen. Jet-lag adalah gangguan dalam siklus ini. Kelenjar ini juga memproduksi sejumlah hormon seperti, melatonin, serotonin, epitalamin, vosotonin dan melanin yang semuanya bertanggung jawab atas keseimbangan otak. Hormon epitalamin terkait dengan kapasitas belajar dan memperlambat penuaan, serotonin memiliki pengaruh yang kuat pada tidur, nyeri dan kenyamanan dan vasotonin berhubungan dengan tidur nyenyak, melatonin mengatur siklus pola tidur dan menghambat hormon seks sebelum pubertas.

Selain itu, penelitian terbaru ilmuwan Yordania, Samer Hattar telah menemukan bahwa sel protein tunggal - melanopsin - di retina tampaknya mendeteksi cahaya yang digunakan untuk mengatur ulang jam internal tubuh manusia.

Kesibukan di kehidupan modern seringkali membuat produksi melatonin berkurang. Penyebabnya adalah begadang karena lembur atau menonton TV hingga larut malam. Bahkan jajak pendapat National Sleep Foundation 1995 mengungkapkan, bahwa setengah dari orang dewasa Amerika memiliki masalah tidur yang disebabkan karena kebiasaan minum alkohol, berolahraga sebelum tidur, tidur pada waktu yang berbeda, berkonsentrasi pada pekerjaan sebelum tidur dan kerja shift malam.

Selain itu, produksi melatonin dapat berkurang dengan paparan cahaya buatan yang berlebihan, seperti menonton tv, medan elektromagnetik, polutan kimia seperti pestisida dan beta-blocker untuk penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan sakit kepala.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan cahaya yang paling sederhana sekalipun dapat membuat tubuh kita stres, mempercepat penuaan dan melemahkan sistem kekebalan dan saraf.

Kafein dalam kopi, teh hitam, dan jenis soda tertentu mengurangi melatonin yang membahayakan antioksidan alami, yang sangat penting untuk perlindungan sel selama jam bangun. Namun harus dikatakan bahwa kualitas bukan kuantitas tidur yang dapat memulihkan dan meremajakan tubuh.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA