Ahad 18 Oct 2020 18:15 WIB

Survei Indikator: 55 Persen Responden Ingin PSBB Dihentikan

Hanya 39 responden yang ingin PSBB dilanjutkan agar Covid-19 bisa diatasi.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Ratna Puspita
Sebanyak 55 persen responden survei Indikator Politik Indonesia ingin agar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dihentikan agar ekonomi bisa berjalan. [Ilustrasi PSBB]
Foto: Republika/Mardiah
Sebanyak 55 persen responden survei Indikator Politik Indonesia ingin agar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dihentikan agar ekonomi bisa berjalan. [Ilustrasi PSBB]

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terbaru terkait mitigasi dampak covid-19 antara kepentingan ekonomi dan kesehatan. Hasilnya, sebanyak 55 persen responden ingin agar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dihentikan agar ekonomi bisa berjalan. 

Hanya 39 responden yang menginginkan agar PSBB dilanjutkan agar penyebaran virus covid-19 bisa diatasi. "Kenapa yang katakan PSBB cukup dihentikan lebih besar ketimbang yang katakan sebaiknya PSBB dilanjutkan, karena mungkin bahkan di antara mereka yang pro kesehatan ketika PSBB dilaksanakan setengah hati seperti yang mereka alami di banyak wilayah, itu mereka merasa PSBB bukan sebagai juru selamat satu-satunya terkait kondisi yang mereka hadapi sekarang," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Ahad (18/10).

Baca Juga

Kondisi tersebut berbeda dibandingkan pada Mei 2020. Ketika itu 50,6 persen responden meminta agar PSBB dilanjutkan dan hanya 43,1 persen menginginkan agar PSBB dihentikan. 

Perubahan kembali terjadi pada Juli 2020, responden yang menginginkan agar PSBB dihentikan melonjak menjadi 60,6 persen. Sedangkan hanya 34,7 persen responden menginginkan agar PSBB dilanjutkan. 

"Dugaan saya waktu itu masyarakat sekian lama mengalami PSBB cukup ketat kemudian mereka capek atau tidak ada pilihan lain karena tidak ada yang bisa dimakan akhirnya ketika ada pelonggaran PSBB mereka meminta agar PSBB cukup, berhenti di sini, dan ekonomi berjalan itu mayoritas di bulan juli. Berbeda dibanding bulan Mei," kata dia. 

Survei Indikator dilakukan pada 24-30 September 2020 dengan menggunakan 1.200 responden melalui metode simple random sampling. Sementara margin of error sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement