Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Kenali Gangguan Psikososial Remaja dan Solusi Mengatasinya

Ahad 18 Oct 2020 16:14 WIB

Red: Irwan Kelana

UBSI bekerja sama dengan MGBK SMK Kabupaten Bogor  menggelar webinar tentang Gangguan Psikososial Remaja.

UBSI bekerja sama dengan MGBK SMK Kabupaten Bogor menggelar webinar tentang Gangguan Psikososial Remaja.

Foto: Dok UBSI
Paling tidak ada 8 aktivitas yang bisa dilakukan bersama untuk mengatasinya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menurut hasil survei  nasional pengalaman hidup anak dan remaja tahun 2018 menyatakan bahwa tiga dari 5 anak perempuan mengalami kekerasan emosional, sedangkan satu dari 2 anak laki-laki juga mengalami hal serupa. Hal ini membuat gangguan depresi bisa terjadi pada anak.  Bahkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 menyebutkan bahwa gangguan depresi sudah mulai terjadi sejak rentang usia remaja kisaran 15 hingga 24 tahun. 

“Gangguan depresi merupakan salah satu bentuk gangguan psiskosial yang dapat berpengaruh pada perkembangan remaja, termasuk prestasi dan sosialisasi di sekolah,” kata  Karyadi MPd.

Ia mengemukakan hal tersebut  dalam webinar yang diadakan oleh MGBK SMK kabupaten Bogor  bekerja sama dengan kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang bertema ‘Mengenal Gangguan Psikososial Remaja dan Workshop Layanan BK Kreatif dengan E-Learning’ secara live via Zoom dan Youtube, Kamis (15/10).

Ia  menyatakan bahwa gangguan depresi menyebabkan gangguan psikosial yang bisa menimbulkan niat siswa untuk mengakhiri hidupnya.  “Sebagai guru,  sudah kewajiban bagi kita untuk mengenali faktor apa saja yang menyebabkan gangguan psikosial pada siswa.  Misalnya faktor kehilangan keluarga, kerentanan kondisi fisik, tidak dicukupi kasih sayang, ataupun mengelami kekerasan dalam rumah tangga dan lingkungan sekolah,” ujar Karyadi selaku ketua MGBK SMK kabupaten Bogor dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Karyadi mengungkapkan bahwa untuk mendeteksi dini gangguan psikososial dapat dilihat dari perilaku remaja. Sebagai contohnya sering memulai atau memancing keributan dengan orang lain, berkata atau bertindak kasar terhadap orang lain termasuk yang dituakan, mencuri untuk kepentingan pribadi, menyakiti binatang yang tergolong tidak berbahaya, serta  suka menyakiti diri sendiri dan menceritakan ide bunuh diri. 

Berikut aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan bersama peserta didik jika menemui gejala psikososial:

1. Berlatih teknik pernapasan

Mengatur nafas menjadi lebih lambat dan teratur membuat lebih banyak oksigen yang masuk ke otak. Hal ini menstimulasi sistem saraf parasimpatis yang membuat tubuh menjadi lebih tenang. 

2. Relaksasi Otot 

Gerakan teratur pada otot membuat tubuh menjadi lebih relasks, sehingga ketika tubuh mengalami relaksasi maka emosi pun juga ikut menjadi tenang dan kecemasan menjadi menurun.

3. Simulasi bilateral 

Tepukan atau sentuhan secara teratur pada tubuh bagian dan kiri dapat membantu seseorang memproses informasi dengan lebih baik. 

4. Menggambar tempat yang aman 

Melihat gambar yang aman, tenang, dan nyaman membuat otak berfokus pada kondisi tersebut walaupun tidak benar-benar dirasakan. Kemudian, stimulasi bilateral yang dilakukan membantu otak untuk memproses informasi mengenai situasi pada gambar agar seperti hal yang benar-benar dirasakan. 

5. Safety hand

Ketika merasa sendiri, maka beban masalah akan terasa lebih berat. Megingat orang yang dapat menolong atau menyayangi dapat membuat beban tersebut dibagi dan diatasi secara bersama-sama. 

6. Body scan body map

Ketika seseorang menyadari hal yang terjadi pada diri, termasuk emosi yang dirasakan, seseorang bisa lebih terbantu untuk menerima emosi tersebut. Menemukan penyebabnya hingga muncul dan mencari solusinya agar emosi tersebut bisa mereda. 

7. Balon air

Ketika marah ada energi di  dalam tubuh yang ingin dikeluarkan. Cara ini bisa membantu mengeluarkan energi tersebut tanpa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Berkegiatan dengan air juga dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang. 

8. Mengenali kejadian positif

Mengingat pengalaman positif membuat otak berfoksu pada kondisi tersebut. Kemudian stimulasi bilateral yang dilakukan membnatu otak untuk memproses informasi mengenai siatuasi pada saat itu agar rasa tenang dan senangnya kembali.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA