Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Banyak Warga AS Kontra Terhadap Kehadiran Vaksin Covid-19

Ahad 18 Oct 2020 11:39 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Sebesar 51 persen orang dewasa AS, tidak akan mau mendapatkan vaksin Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Jajak pendapat Pew Research mengatakan dari akhir September hingga kini menunjukkan sekitar setengah dari orang dewasa Amerika Serikat (AS), sebesar 51 persen, tidak akan mau mendapatkan vaksin Covid-19. Ini diperparah dengan berita pekan ini, yang menyatakan dua produsen obat besar menghentikan uji coba vaksin mereka karena masalah keamanan kesehatan.

Tara Granger (36 tahun) telah bekerja sebagai perawat selama dua dekade di Suffolk County, New York. Ia pernah jatuh sakit akibat virus corona dan ia melakukan isolasi mandiri dengan mengkonsumsi vitamin. Ia mengaku khawatir nantinya akan di vaksin Covid-19. Menurutnya vaksin bukan solusi untuk terhindar dari Covid-19.

"Vaksin Covid-19 bukanlah sesuatu yang kami butuhkan, meskipun aman. Orang-orang menginginkan solusi yang mudah, dan mereka pikir inilah (vaksin) solusinya. Tapi sebenarnya tidak," katanya dilansir dari New York Post, Ahad (18/10).

Namun, pekerjaannya mengharuskan dia untuk merekomendasikan vaksin Covid-19 jika tersedia. Tetapi Granger mengatakan dia tidak akan mengkonsumsinya secara pribadi.

Dia bukan satu-satunya yang merasa khawatir. Rob Holmes (50) dari Marina del Rey, Kalifornia mengatakan dia mendapat vaksinasi flu tahunan meskipun istrinya enggan.  "Saya mulai berpikir bahwa saya yang gila," katanya.

Untuk pertama kalinya, dia belum mendapatkan vaksinasi flu, dan dia berkata bahwa dia masih ragu-ragu tentang apakah dia akan mendapatkan vaksin Covid-19 jika sudah tersedia.

Claudia Torres, seorang ibu rumah tangga (28) sekaligus blogger dari Miami, merasakan hal yang sama.  Dia mengatakan bahwa semua anaknya mendapatkan informasi terbaru tentang vaksin yang direkomendasikan.

"Saya bukan anti-vaxxer. Tapi saya hanya tidak menginginkan vaksin Covid-19," kata dia.

Bahkan orang kaya dan berkuasa pun mengungkapkan keraguan. Elon Musk mengatakan dalam wawancara podcast pada akhir September bahwa dia tidak akan mau divaksin karena dia tidak berisiko Covid-19, begitu pula anak-anaknya.

Gerakan anti-vaksin bukanlah hal baru, pada 2019 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendaftarkan keragu-raguan vaksin sebagai salah satu dari sepuluh ancaman teratas terhadap kesehatan global.

Sementata itu, Scott Ratzan, seorang dokter dan ahli misinformasi medis di City University of New York dan Columbia University mengatakan sentimen anti vaksin Covid-19 adalah hasil dari serangan besar-besaran terhadap kepercayaan pada pemerintah, sains dan otoritas kesehatan masyarakat.

Sebagian besar informasi yang salah telah menyebar secara online, berkat media sosial dan film dokumenter kontroversial Plandemic, di mana ahli virologi Judy Mikovits mengklaim bahwa vaksin Covid-19 diperkirakan akan membunuh jutaan orang.

"Ketidaksabaran orang-orang yang meningkat dengan efek penyakit pada kehidupan dan mata pencaharian mereka, dan anda memiliki lahan subur untuk menyebarkan propaganda anti-sains. Rasanya seperti manna dari surga bagi anti-vaxxers hardcore," katanya.

Menurunnya jumlah orang yang ingin mendapatkan vaksin Covid-19 merupakan kekhawatiran yang nyata. Menurut Universitas Johns Hopkins, antara 70 persen dan 90 persen orang Amerika perlu memiliki antibodi virus corona untuk mencapai herd immunity.  "Vaksin tidak akan banyak membantu kecuali kita memiliki sejumlah besar populasi yang diimunisasi," kata Ratzan.

Pada 1 Oktober, New England Journal of Medicine menerbitkan sebuah makalah yang menyarankan bahwa mereka yang tidak mau menggunakan vaksin Covid-19 secara sukarela harus dikenakan hukuman dan yang relatif besar termasuk penangguhan pekerjaan.

Kass, dari Johns Hopkins, mengakui bahwa komunikasi tentang pencegahan dan vaksinasi Covid-19 cukup berbahaya dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Solusinya, katanya, mungkin melibatkan bukan mengubah pesan tetapi siapa pembawa pesannya.

"Ketika ada wabah campak di antara komunitas Yahudi Ortodoks di Brooklyn baru-baru ini, bagian dari strategi tanggapan juga melibatkan pencarian utusan tepercaya dari dalam komunitas untuk menyebarkan pesan bahwa vaksin campak dapat menyelamatkan nyawa anak-anak mereka,” katanya.

Tetapi bagi Palma, tidak ada yang akan berubah pikiran tentang vaksin Covid-19. Bahkan jika Tuhan sendiri turun dari surga dan berkata itu tidak akan membahayakan Anda, saya akan mengatakan tidak, terima kasih.

"Saya percaya pada cara berbeda dalam merawat tubuh. Saya percaya pada makanan sehat, sinar matahari, cinta, hubungan (yang baik) dengan Bumi, olah raga. Saya hanya tidak percaya kesehatan yang baik dapat ditemukan dengan suntikan," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA