Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Bukan Senjata, Ini Doktrin Pertahanan Bagi Iran

Ahad 18 Oct 2020 10:21 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Muhammad Hafil

Bukan Senjata, Ini Doktrin Pertahanan Bagi Rakyat Iran. Foto: Parade tentara di Hari Tentara Nasional Iran

Bukan Senjata, Ini Doktrin Pertahanan Bagi Rakyat Iran. Foto: Parade tentara di Hari Tentara Nasional Iran

Foto: Islamic Invitation Turkey
Iran memiliki doktrin pertahanan non senjata.

REPUBLIKA.CO.ID,  DUBAI -- Iran mengatakan pihaknya sudah mandiri dalam pertahanan dan tidak perlu melakukan pembelian senjata secara besar-besaran. Pernyatan ini muncul ketika embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)akan berakhir pada Ahad (18/10).

"Doktrin pertahanan Iran didasarkan pada ketergantungan yang kuat pada rakyatnya dan kemampuan pribumi ... Senjata tidak konvensional, senjata pemusnah massal dan pembelian senjata konvensional tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri yang disiarkan oleh media pemerintah.

Embargo senjata Dewan Keamanan PBB(DK PBB) pada 2007 terhadap Iran akan berakhir pada Ahad. Poin tersebut merupakan salah satu dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati antara Iran, Rusia, China, Jerman, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat pada 2015.

Kesepakatan tersebut berusaha mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir sebagai imbalan untuk keringanan sanksi ekonomi. Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat sejak Presiden AS Donald Trump pada 2018 secara sepihak menarik diri dari kesepakatan itu. Pada Agustus, pemerintahan Trump memicu proses yang bertujuan memulihkan semua sanksi PBB, setelah DK PBB menolak tawaran AS untuk memperpanjang embargo senjata konvensional di negara itu.

"Normalisasi kerja sama pertahanan Iran dengan dunia hari ini adalah kemenangan bagi multilateralisme dan perdamaian serta keamanan di kawasan kami," kata Menteri Luar Negeri Iran Mohammad, Javad Zarif, di Twitter.

Beberapa hari setelah memicu proses tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, memperingatkan Rusia dan Cina untuk tidak mengabaikan penerapan kembali semua sanksi PBB terhadap Iran yang diminta Washington. Ketika ditanya apakah AS akan menargetkan Rusia dan Cina dengan sanksi jika  menolak untuk memberlakukan kembali tindakan PBB terhadap Iran, Pompeo berkata: "Tentu saja."

"Kami telah melakukan itu, di mana kami telah melihat negara mana pun melanggar ... sanksi Amerika saat ini, kami telah meminta pertanggungjawaban setiap negara untuk itu. Kami juga akan melakukan hal yang sama sehubungan dengan sanksi DK PBB yang lebih luas," ujar Pompeo.

Iran telah mengembangkan industri senjata domestik yang besar dalam menghadapi sanksi dan embargo internasional yang melarangnya mengimpor banyak senjata. Analis militer Barat mengatakan Iran sering membesar-besarkan kemampuan senjatanya, meskipun kekhawatiran tentang program rudal balistik jarak jauhnya berkontribusi pada Washington meninggalkan kesepakatan nuklir Iran.  

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA